
penanews.id, BANGKALAN – Pada akhirnya setiap kejahatan akan sampai pada kesialan. Di Bangkalan, kabupaten paling barat di Pulau Madura, banyak penjambret ketiban apes setelah menjambret perempuan. Seolah ada hukum tak tertulis bahwa kaum hawa menjadi semacam karma bagi para bandit jalanan ini.
Di suatu jumat sore yang sumuk, 17 Januari lalu. Dua gadis remaja asyik berbincang di depan TK Aisyiyah, Kecamatan Burneh. Salah seorang tampak memainkan handphone di tangannya.
Pemandangan itu menarik perhatian Ansori 45 tahun dan Ahmadi 35 tahun yang sedari tadi ngider bersepeda motor mencari target jambret. Melihat ada sasaran empuk, mereka mendekati dua gadis itu dan Ansori langsung turun dan merampas hape itu.
Rupanya kedua gadis itu bukan sasaran empuk. Mereka melawan. Dipegangnya Ansori yang hendak kabur naik sepeda motor yang dikemudikan temannya Ahmadi, sambil berteriak-berteriak minta tolong.
Kegaduhan itu memancing warga berhamburan ke jalan menuju sumber suara. Dan akhir ceritanya, duo penjambret berpengalaman itu dengan mudah diringkus. Video ketika mereka diarak warga, sebelum polisi datang dan membawa ke kantor Polsek Burneh, sempat viral di media sosial dan aplikasi percakapan online whatsapp.
“AN asal Desa Kemoning dan AH asal Desa Keteleng, Kecamatan Tragah,” Kasubag Humas Polres Bangkalan, AKP Bahrudi merinci tempat tinggal kedua penjambret.
Jika diibaratkan sebuah rekor, Ansori dan Ahmadi layak masuk daftar sebagai jambret lintas kecamatan yang lihai. Dengan catatan lima kali lolos dan gagal di upaya penjambretan ke enam.
Enam buah handphone telah mereka rampas kemudian dijual. TKPnya paling banyak adalah pasar tradisional, merentang dari Kecamatan Tanah Merah, Patemon, Burneh, Kota Bangkalan, hingga Kamal.
Jambret di Jalan Asmara
Sebuah jalan di pinggiran Kota Bangkalan, yang entah bagaimana ceritanya kemudian populer sebagai Jalan Asmara, menjadi saksi bagaimana Abdurrahman, warga Jaddih, Kecamatan Socah, ditembak polisi.
Peristiwa yang terjadi pada hari terakhir tahun 2018 itu, juga menjadi hari terakhir pertualangan Abdurrahman merampas handphone muda-mudi yang nongkrong di jalanan sepi yang dulunya dikenal sebagai ‘pabrik es’ karena pernah beroperasi sebuah pabrik es tua di sana.
Sepakterjang Abdurrahman memang sangat meresahkan. Dia 18 kali menjambret tanpa sekalipun terdeketeksi, sebelum petualangnnya dihentikan timah panas pistol polisi.
Ia juga dikenal sadis, tak ragu melakui para korban jika melawan. Ketika menjambret di Kecamatan Arosbaya, korbannya sampai terjungkal dari sepeda motor dan berakhir di rumah sakit.
Gadis 17 Tahun Melawan Penjambret
Juga ada kisah Efi, warga Desa Parseh. Pada Maret 2019, di jalan raya Kamal, gadis belia 17 tahun ini berjibaku melawan Badrus Soleh, pemuda Arosbaya 24 tahun yang menjambret tasnya.
Setelah nyaris gagal mempertahankan tasnya yang berisi uang Rp 340 ribu dan sebuah handphone, Efi menggunakan jurus terakhirnya yaitu berteriak minta tolong sambil menarik kaus pelaku hingga jatuh terjerembab.
Pengendara lain pun datang menolong. Makin lama jumlahnya makin banyak dan beramai-ramai memukuli Badrus yang gak soleh itu. Sebelumnya dibawa polisi dengan wajah penuh luka lebam.
Tiga kisah penjambret apes ini kian menegaskan kaum hawa menjadi semacam karma bagi bandit jalanan dan mereka tak selemah yang pria kira. (EMBE)






