• Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer
Senin, 25 Mei 2026
Penanews.id
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Tidak ditemukan
Lihat Semua
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Tidak ditemukan
Lihat Semua
Penanews.id
Tidak ditemukan
Lihat Semua
Beranda Opini

Ini Sosok Maria dan Dmitri, Dua Wartawan yang di Anugerahi Nobel Perdamaian

  • Minggu, 10 Oktober 2021 14:01
FacebookTwitterWhatsApp

Baca Juga:

Jurnalisme Lingkungan dan Lokakarya Santuy Ala SKK Migas Jabanusa

Foto tempo.co




Penanews.id, JAKARTA – Nobel Perdamaian untuk kategori Jurnalisme tahun 2021 diberikan kepada dua wartawan: Maria Ressa dari Filipina dan Dmitri A. Muratov dari Russia.

Keduanya adalah pendiri dan pemimpin redaksi di negaranya masing-masing.

Maria Ressa adalah pemimpin redaksi media Rappler. Pada 2018, Ijin media ini dicabut oleh otoritas di Filipina.

Ketika Presiden Duterte melancarkan “perang melawan narkoba”, Rappler dengan berani membuka kebobrokan agenda ini.

Perang ini memakan kira-kira 30,000 nyawa dan korban-korbannya adalah rakyat kecil yang tidak bisa membela diri.

Sementara Dmitri A. Muratov adalah pemimpin Redaksi Novaya Gazeta, sebuah media investigatif di Russia. Media ini didirikan Presiden terakhir Uni Sovyet Mikhail Gorbachev.

Uang pendiriannya berasal dari sebagian hadial Nobel Perdamaian yang diterima Gorbachev pada tahun 1990.

Sejak didirikan, enam jurnalis Novaya Gazeta telah terbunuh. Semua ini berkaitan dengan laporan yang mereka tulis. Tidak terhitung ancaman, pelecehan, dan intimidasi yang mereka terima.

Namun media ini tetap berusaha tegak memberitakan apa yang harus diberitakan dan membuat penguasa bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan.

Anugerah untuk kedua jurnalis ini layak disebut sebagai anugerah kepada jurnalisme itu sendiri. Kita tahu bahwa dalam jaman sekarang ini sangat sulit menjadi jurnalis.

Ada banyak orang yang berprofesi sebagai “wartawan” namun tidak semua wartawan mengerti jurnalisme dan mampu menghidupi profesinya dalam standar sebagai jurnalis. (*)

Tags: Nobel PerdamaianNobel untuk jurnalisme
38
Dilihat
FacebookTwitterWhatsApp

Berita Terkait

Mahasiswa Tewas Dipukuli Karena Tidur di Masjid, Bagaimana Sebenarnya Hukum Tidur di Masjid?

Mahasiswa Tewas Dipukuli Karena Tidur di Masjid, Bagaimana Sebenarnya Hukum Tidur di Masjid?

7 bulan yang lalu
116
Meluruskan Narasi Negatif “Calon Tunggal”, Menuju Perhelatan Kontestasi Pilkada Bangkalan

Meluruskan Narasi Negatif “Calon Tunggal”, Menuju Perhelatan Kontestasi Pilkada Bangkalan

2 tahun yang lalu
123
Efek Elektoral Dukungan Demokrat Ke Prabowo

Efek Elektoral Dukungan Demokrat Ke Prabowo

3 tahun yang lalu
40
Perlunya Suksesi Kekuasaan

Perlunya Suksesi Kekuasaan

3 tahun yang lalu
61
Pastikan Kita Punya Urgensi Dan Alasan Yang Kuat Untuk Mengubah Sistem Pemilu

Pastikan Kita Punya Urgensi Dan Alasan Yang Kuat Untuk Mengubah Sistem Pemilu

3 tahun yang lalu
39
Moral Politik Transaksional

Moral Politik Transaksional

3 tahun yang lalu
49
Berikutnya
Cerita Pemuda Ngaku Dibegal, Padahal Jadi Korban Open BO

Cerita Pemuda Ngaku Dibegal, Padahal Jadi Korban Open BO

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer

© 2019 @Penanews.id All Rights Reserved

  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret

© 2021 Penanews.id All right reserved.