
Penanews.id, BANGKALAN – Kongres pertama Kaconk Mahfud Institut atau KMI berlangsung panas.
Suasana panas itu bahkan sudah terasa sejak dimulainya kongres dengan agenda pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.
Meski tak sampai ricuh, debat mulut dan adu argumentasi mewarnai jalannya kongres yang digelar di Sekertariat KMI, Senin, 17 Agustus 2021.
Ketika agenda beralih ke pembahasan Tata Tertib pemilihan direktur KMI, suasana kongres semakin panas. Hujan protes dan interupsi dilayangkan ke pimpinan sidang.
Apalagi peserta kongres terpecah ke dalam tiga kubu, dimana tiap kubu telah memiliki calon kandidat direktur KMI.
Kubu pertama, menginginkan Nur Hakim tetap menjadi Direktur KMI. Sementara dua kubu lain adalah pendukung Junaidi Asmoro dan Muhammad Ruji.
Setelah perdebatan yang sengit, tiga nama ini akhirnya disahkan sebagai kandidat calon direktur KMI. Nur Hakim mendapat no.urut 1, Junaidi Asmoro nomor urut 2 dan Moh. Ruji nonor urut 3.
Rapat menyapakati dari 25 peserta kongres hanya 20 peserta yang mendapat hak suara. Setelah surat suara dihitung hasilnya Nur Hakim terpilih kembali sebagai Direktur untuk masa jabatan lima tahun ke depan.

Berikut perolehan suaranya:
- Nur Hakim: 10 suara
- Junaidi Asmoro: 6 suara
- Moh. Ruji: 4 suara
suara tidak sah: 1 suara
“Terimakasih kepada tretan KMI masih mempercayai saya untuk menjadi Direktur,” Ujar Direktur Terpilih Nur Hakim.
Sejarah KMI
Kaconk Mahfud Institut atau KMI adalah organisasi sosial dan Kepemudaan. Organisasi ini berdiri pada 6 Agustus 2016 di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
Nama Mahfud dalam organisasi ini merujuk pada sosok Mahfud S.Ag. Ia kini Anggota DPRD Jatim dari Fraksi PDIP dan juga Ketua IKA PMII Surabaya.
KMI dikenal publik Bangkalan lewat kegiatannya yang konsisten membagikan sembako kepada warga miskin yang tak tersentuh program pemerintah. Mereka juga sering membantu pembangunan Musala dan madrasah di pelosok desa.
RZL







