
Penanews.id, BANGKALAN – Bupati Bangkalan, Madura, Jawa Timur, R. Abdul Latif Amin Imron menjelaskan alasan ikhwal rencana membeli alat Polymerase Cain Reaktion (PCR).
Dia perlu menjelaskan ini setelah sejumlah kalangan mempertanyakan kenapa rencana itu baru tercetus sekarang, setelah jumlah pasien positif Corona di Bangkalan mencapai lebih 60 orang.
Pria yang akrab disapa Ra Latif ini menjelaskan pembelian alat tes PCR itu untuk memangkas panjang antrean tes PCR di RSUD dr Soetomo Surabaya.
Menurut info yang dia terima, antrean menjadi lama karena laboratorium di sana ditutup setelah ada pegawai terpapar Virus yang menyerang sistem pernafasan ini.
“Karena dengan ditutupnya laboratorium soetomo, kabarnya pegawainya positif semua, otomatis ada dua lab yang buka di Jatim. Sehingga daftar antrean untuk swab cukup lama,” kata dia saat ditemui di Pendopo Agung Bangkalan. Rabu, 3 Juni 2020.
Sementara di sisi lain, kata dia, seorang pasien bisa dinyatakan sembuh, minimal harus melalui dua kali swab (PCR). Atas dasar situasi itulah, sambung dia, pemkab berencana membeli alat tes swab sendiri.
“Kami mencoba berfikir mengadakan sendiri sehingga dengan pasien yang kita miliki ini baik PDP maupun ODP pasti, apakah positif corona atau memang punya penyakit bawaan di pasien sendiri,” ujarnya.
Satu alat swab PCR harganya ditaksir Rp 1 miliar. Menurut Latif, ketersediaan alat ini akan menghemat anggaran.
Sebab, biaya satu sample swab Rp 2,5 juta untuk jalur subsidi dan Rp 4,6 juta untuk jalur mandiri di rumah sakit swasta.
“Jadi kami akan recofusing anggaran. selain dibelanjakan APD, Alat rapid dan baksos, ya untuk Swab itu,” ungkap dia.
Abdi






