Oleh: Made Supriatma
Sedih sekali membaca laporan dari The New York Times. Koran ini memberitakan bagaimana limbah plastik diimpor dari Amerika dan dipergunakan sebagai bahan bakar pembuatan tahu.
Plastik-plastik ini masuk bersama kertas bekas yang diimpor oleh pabrik-pabrik kertas di Jawa Timur. Pabrik-pabrik kertas tersebut menggunakan kertas-kertas daur ulang dari Amerika.
Setengah dari kertas yang mereka impor berisi plastik. Mengapa mereka lakukan itu? Karena harga kertas campur plastik jauh lebih murah.
Plastik-plastik ini kemudian mendarat di Desa Bangun. Dari sanalah plastik-plastik kemudian mengalir ke Desar Tropodo, produsen tahu.
Foto-foto yang ditampilkan koran ini mengerikan. Asap hitam pekat hasil pembakaran plastik menghiasi udara. Dan itu berlangsung sepanjang hari.
Lebih mengenaskan lagi adalah deskripsi artikel ini. Pengukuran terhadap telur-telur yang dihasilkan di Desa Tropodo menunjukkan bahwa telur-telur ini telah tercemar berbagai bahan kimia.
Mengapa telur ayam? Karena ayam adalah prediktor polutan yang paling baik di Tropodo. Ayam mencari makan di tanah dan kandungan kimia yang ada di tanah masuk ke dalam tubuh ayam, dan pada akhirnya juga pada telurnya.
Salah satu jumlah bahan kimia yang ditemui dalam telur-telur ayam di Tropodo adalah dioxin. Mungkin banyak dari Anda yang tidak tahu apa itu dioxin.
Ini adalah zat kimia yang dipakai Amerika Serikat dalam perang Vietnam. Orang mengenalnya sebagai ‘hujan kuning.’ Di negeri asalnya dia disebut sebagai ‘agent orange.’
Hujan kuning ini adalah semacam herbicide yang dipakai militer AS untuk merontokkan daun-daunan di hutan-hutan Vietnam. Juga dipakai untuk mematikan tanaman-tanaman pangan yang dipercaya akan mensuplai makanan untuk gerilyawan Vietcong.
Salah satu bahan kimia yang ada dalam hujan kuning ini adalah dioxin. Ini adalah bahan yang berbahaya karena akan menimbulkan kanker dan menganggu sistem syaraf manusia.
Setahu saya, beberapa perusahan Amerika yang membuat agent orange ini sudah dikenai denda yang amat besar.
Pabrik agent orange ini ada di kota Newark, New Jersey, dan hingga kini hasil laut dari wilayah Newark Bay tidak bisa dikonsumsi. Pembersihan besar-besaran sudah dilakukan.
Telur ayam Tropodo memiliki kadar dioxin tertinggi kedua di dunia. Hanya kalah dari telur-telur yang berasal dari wilayah Bien Hoa di Vietnam, tempat yang pernah di bom dengan agent orange oleh militer AS.
Orang mungkin menganggap enteng persoalan ini. Pemerintah pun tidak menganggap ini persoalan besar karena fokus pemerintah sekarang adalah membangun infrastruktur dan menarik investasi sebanyak-banyak.
Bahkan isu lingkungan dianggap sebagai penghambat investasi. Ini diperlihatkan oleh pemerintah dengan keinginan untuk menghapuskan AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan).
Di atas segalanya, kita memang kecanduan plastik dan gorengan. Beberapa kali saya mendengar bahwa tukang-tukang gorengan mencelupkan plastik ke minyak (berbahan sawit!) untuk menggoreng pisang, tahu, atau apa saja. Kabarnya plastik akan membuat gorengan jadi lebih renyah.
Tentu, lebih mudah untuk menunjuk tangan kepada pihak paling rentan dalam rantai perdagangan limbah plastik ini: yakni produsen tahu dan pemulung.
Padahal selain sebagai pelaku, para produsen dan pemulung ini adalah pasukan garis depan dalam ekonomi limbah plastik ini. Mereka juga yang mati pertama.
Satu-satunya hal yang bisa mencegah ini adalah regulasi dan pemaksaannya. Inilah kekuasaan yang dimiliki oleh negara dan untuk itulah kita memiliki pemerintahan.
Namun sejauh ini, sebagaimana juga yang ditunjukkan oleh artikel The Times ini, pemerintah tidak menunjukkan minat sama sekali untuk memperhatikan persoalan ini.
Link berita:
https://www.nytimes.com/2019/11/14/world/asia/indonesia-tofu-dioxin-plastic.html
*) tulisan ini diambil dari lama facebook penulis