• Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer
Sabtu, 25 April 2026
Penanews.id
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Tidak ditemukan
Lihat Semua
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Tidak ditemukan
Lihat Semua
Penanews.id
Tidak ditemukan
Lihat Semua
Beranda Opini

POPULISME KANAN DAN SEJARAH ; BENCANA KEMELARATAN BIOLOGIS

  • Minggu, 22 Maret 2020 19:03
FacebookTwitterWhatsApp


OLEH: IDRUS ZAMAN
 
Akhir-akhir ini sebagian besar manusia benar-benar hidup di tubir garis kemelaratan biologis, bukan hanya kemiskinan yang menyebabkan banyak masalah kesehatan, hingga belum lama berselang, Ramalan mengerikan Bill Gates tentang kekhawatiran merebaknya virus Corona yang ditemukan di Kota Wuhan, China yang membuat panik seluruh umat-manusia.

Bukan hal yang aneh bila 5 sampai 10 persen populasi di dunia akan musnah, ketika pemerintah terlalu jauh serta lemah untuk memberi bantuan pada masa-masa seperti ini, Atau mungkin kemunculan populisme kanan dalam hal ini para pemuka agama dan politisi lebih membuat panik umat manusia.

Baca Juga:

Asyik Ya! kini Siswa SD dan SMP di Surabaya Terbebas dari PR Sekolah

Walikota Surabaya ‘Haramkan’ Camat, Lurah dan Puskesmas Minta Fotokopi KTP Warga

Sejarah degradasi populasi-manusia akibat epidemi-hitam

Setiap tahun kita selau dibayang-banyangi kecemasan oleh suatu ledakan epidemi atau wabah baru seperti SARS pada tahun 2002/2003, flu burung pada tahun 2005, flu babi pada tahun 2009/2010, dan Ebola pada tahun 2014, sampai hari ini potensi epidemi terus tumbuh dan berkemungkinan meledak pada tiap tahunnya, virus corona mungkin menjadi epidemi yang mengerikan di sepertiga tahun 2020 ini.

Virus Corona yang disebut mirip dengan Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) bukanlah peristiwa tunggal yang mengakibatkan kemelaratan biologis, hingga mengantarkan populasi-manusia mengalami penurunan secara agregat, tetapi virus ini bisa dibilang wabah terburuk sepanjang sejarah.

Wabah hitam atau epidemi-epidemi yang lebih dahsyat pernah melanda Amerika, Australia, dan Kepulauan Pasifik setelah kedatangan pertama bangsa Eropa.

Pada dekade 1330, disuatu tempat di Asia timur atau tengah, wabah paling terkenal yang dinamai maut hitam meletup dengan cepat dan menyebar ke seluruh Asia, Eropa, dan Afrika Utara, dan hanya pada kurun waktu kurang dari dua tahun mencapai pesisir-pesisir Samudra Atlantik. Hampir seper-empat populasi Eurasia mati akibat penyebaran wabah hitam tersebut.

Antara 75 juta sampai 200 juta orang mati disudut-sudut kota. Di Inggris 10 orang mati, dan populasi susut dari 3,7 juta jiwa sebelum wabah, menjadi 2,2 juta setelah wabah. Kota Flourensia harus kehilangan 50.000 dari 100.00 penduduknya.

Masyarakat di abad pertengahan mengatakan Maut hitam sebagai kekuatan iblis mengerikan yang melampui kendali atau pemahaman manusia. Padahal wabah hitam tersebut adalah jasad renik bakteri “Yersina Pestis”. Renik bakteri Gram-negatif yang dapat tumbuh atau tanpa oksigen (yang disebut anaerob).

Renik bakteri ini meng-infeksi manusia dengan indikasi tiga bentuk : pnumonik, septisemik, dan wabah bubonik. Ketiga bentuk infeksi ini yang mengakibatkan degradasi populasi global dalam sejarah manusia yang termasuk wabah justinan.

Pada 1520 wabah juga tiba di Lembah Meksiko dan bulan oktober memasui gerbang-gerbang ibu kota Aztec, Tecnochtitlan sebuah kota metropolitan yang berpenduduk 250.000 jiwa sepertiga dari angka tersebut harus musnah akibat wabah hitam.

Meskipun pada awal abad ke-20, lebih banyak kemungkinan manusia manusia mati akibat mcDonald ketimbang bencana kekeringan, Ebola, atau serangan al-Qaeda, namun Epidemi menjadi wabah yang meresahkan dan terus menyebar, memasuki abad ke-20 pada januari 1918, bala tentara di parit-parit Prancis utara mulai mati dalam jumlah ribuan akibat wabah hitam flu yang ganas, dan dijuluki “ Flu Spanyol”. Dalam waktu yang cepat setengah miliar orangsepertiga populasi global dibuat ambruk oleh virus itu.

Perdebatan Populisme kanan dan kepastian

Masyarakat atau kaum maya disemenanjung Aztec menuduh dan meyakini bahwa tiga dewa jahatEkzpect, Uzannkan, dan Sojakak terbang dari desa ke desa pada malam hari, menulari orang orang dengan penyakit itu. Masyarakat Aztec menyebutnya sebagai ulah dewa Tezcatlipoca dan Xipetotec, atau mungkin sihir hitam orang-orang kulit putih.

Pedebatan kaum populisme semacam ini nampak terjadi di belakangan hari ini, banyangkan para pemuka agama dan politisi juga turut membuat kepanikan dengan mengangkat bahu dan mengatakan : “Saya tidak takut Corona, hanya takut pada Allah”.

Kelihatannya benar dan seakan-akan menginterpretasikan keimanan mereka yang tinggi, namun sebenarnya “sarat akan paham Jabariyyah” dalam kajian aqidah.

Lalu bagaimana dengan keimanan Baginda Nabi yang mengatakan “ Larilah engkau dari lepra sebagaimana larinya engkau dari singa” (HR. Bukhari). Atau atau mungkin seperti ini “Tak mungkin Allah turunkan wabah kepada orang-orang shalih”. lalu bagaimana dengan sahabat mulia Muadz bin Jabal yang wafat karena wabah penyakit, apakah mungkin termasuk dari bagian orang kafir atau ahli maksiat?.

Pandangan atas kalimat-kalimat diatas merupakan otoritas keilmuan yang tak lagi dihargai, baik ilmu agama maupun ilmu Sains. Tentu meningkatnya kematian umat manusia diakibatkan oleh kepanikan-kepanikan yang di anggap benar oleh sebagian kelompok yang dalam hal ini disebut populisme kanan, nasib buruk atau kebodohan pada tingkat kolektif mengakibatkan bencana kematian masal.

Baiknya dalam situasi seperti ini setiap manusia saling ber-ikhtiyar untuk menjaga kesehatan pada dirinya sebagai kepedulian terhadap sesama manusia sebagai bentuk ketakwaan dan menyakini Firman Allah : “Tanyakanlah kepada ahli ilmu apabila engkau tak mengetahui”.

Kembali ke Corona dan Upaya Pemerintah

Wabah virus corona memang bukan satu-satunya epidemi yang mengakibatkan kematian masal umat manusia, beberapa epidemi yang pernah kita hadapi yang sangat tragis pernah terjadi pada tahun1967 seperti cacar yang menjangkit 15 juta orang dan membunuh 2 juta diantaranya, tetapi pada tahun 2014 seorang pun tidak terjangkit atau tewas oleh cacar.

Sebuah kampanye vaksinasi cacar begitu sukses sehingga pda 1979 Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan kemengan manusai terhadap wabah cacar, Namun tragedi AIDS, merupakan kegagalan medis terbesar dalam beberapa dekade terakhir ini.

Mungkin peran negara atau pemerintah dalam langkah-langkah penanggulangan melalui kebijakan atau melakukan riset yang melibatkan ilmuwan merupakan langkah yang efisien dalam menghadapi wabah hitam corona ini.

Tapi dalam situasi ini negara secara kebijakan-pun dapat dikatakan tidak siap dalam menghadapi wabah ini, dengan meng-karantina sebagian kelas sosial tertinggal seperti petani dan masyarakat pinggiran, namun tidak meliburkan buruh dan pekerja-pekerja yang rentan terjangkit oleh virus ini, bagaimana mungkin sebagian kelas kecil harus terus hidup diruangan rumah sedangkan sebagian masih melakukan interaksi sosial dengan bekerja di padrik ataupun industri.

Sedangkan pemerintah menghimbau agar tetap dirumah, dengan kebijakan yang timpang, misal para pekerja-buruh tetap melakukan aktivitas mereka sebeagai pekerja.

Terlepas tetap dirumah atau tidak, seharusnya menjadi salah satu kebutuhan kolektif dalam menghadapi situasi seperti ini, bagaimana bisa para petani tetap dirumah sedangkan lumbung-lumbung pangan menjadi kosong melompong apalagi lumbung komune, sedangkan bulog hanya menguasai 7% dari stok nasional, lainnya pemodal.

Disisi lain orang-orang kaya mematok harga tinggi gila-gilaan terhadap barang apapun yang bisa mereka timbun, misalnya masker dan Hand-sanitezer, dan orang-orang miskin mati berbondong-bondong akibat ulah elite dan para penimbun itu.

Mungkin hari ini kita terjebak Antara kehawatiran roda perekonomian yang tidak berputar dengan kecemasan wabah yang mengakibatkan degradasi manusia yang besar.

Penulis: Idrus Zaman, Mahasiswa UIN Maliki Ibrahim Malang.

Fakultas: FAKULTAS SAINS Jurusan kimia

Catatb Kaki ;
“Cholera”, World Health Organization, Februari 2014,http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs107/en/index.html.

David van Reybrouck, Congo: The Epic History of a People (New York: HarperCollins,2014).

Edward Anthony Wrigley et at, English Population History From Family Recontution, 1580-1837 (Cambridge University Press,1997), 295-296, 303.

Jeffery K. Taubenberger dan David M. Morens, “1918 influenza : The Mother of All Pandemics”, Emerging infectious Diseases 12:1 (2006).

Robert S. Lopez, The Birth of Europe [tel Aviv: Dvir, 1990), 427.

Tags: Aktivis PMIIBencana kemelaratan biologisJawa TimurPerang anti virusPerang dagang antara amirika dan ChinaPerang dagang ekonomi duniaPopulisme kanan dan sejarahSejarah virus CoronaSenjata biologisSurabayaUIN Maliki Ibrahim MalangVirus coronaWabah virus Corona
132
Dilihat
FacebookTwitterWhatsApp

Berita Terkait

Mahasiswa Tewas Dipukuli Karena Tidur di Masjid, Bagaimana Sebenarnya Hukum Tidur di Masjid?

Mahasiswa Tewas Dipukuli Karena Tidur di Masjid, Bagaimana Sebenarnya Hukum Tidur di Masjid?

6 bulan yang lalu
112
Meluruskan Narasi Negatif “Calon Tunggal”, Menuju Perhelatan Kontestasi Pilkada Bangkalan

Meluruskan Narasi Negatif “Calon Tunggal”, Menuju Perhelatan Kontestasi Pilkada Bangkalan

2 tahun yang lalu
121
Efek Elektoral Dukungan Demokrat Ke Prabowo

Efek Elektoral Dukungan Demokrat Ke Prabowo

3 tahun yang lalu
40
Perlunya Suksesi Kekuasaan

Perlunya Suksesi Kekuasaan

3 tahun yang lalu
60
Pastikan Kita Punya Urgensi Dan Alasan Yang Kuat Untuk Mengubah Sistem Pemilu

Pastikan Kita Punya Urgensi Dan Alasan Yang Kuat Untuk Mengubah Sistem Pemilu

3 tahun yang lalu
38
Moral Politik Transaksional

Moral Politik Transaksional

3 tahun yang lalu
49
Berikutnya
Anggaran Belanja Kementerian Rp 6,2 Triliun Dialihkan Atas Corona

Anggaran Belanja Kementerian Rp 6,2 Triliun Dialihkan Atas Corona

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer

© 2019 @Penanews.id All Rights Reserved

  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret

© 2021 Penanews.id All right reserved.