
Penanews.id, BANGKALAN- Lailatus Syarifah (20) merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Ngudia Husada Madura (NHM) Bangkalan, Madura, Jawa Timur angkatan tahun 2018.
Tak lama lagi, Laila sapaan lekatnya, bakal menyandang gelar Amd. Kes. Sebab, program strata diploma 3 (D-3) nya diperkirakan bakal tuntas pada akhir tahun 2021 ini.
Dibalik kesibukan kegiatan akademiknya selama ini, Laila, ternyata masih bisa membagi waktu dengan kegiatan organisasi. Padahal, kampus dengan lebel kesehatan biasanya cukup padat materi kuliahnya.
Tak tanggung, Ia kini menjabat Presiden Mahasiswa (Presma). Uniknya lagi, Laila satu satunya perempuan yang menjabat Presma sejak NHM Berdiri.
Berani Tampil Meski Perempuan
Statusnya sebagai mahasiswi kesehatan tak menjadi penghalang bagi Laila untuk menjadi organisatoris sejati. Apalagi, perempuan asal Dusun Mujang, Desa Dempo Timur, Pasean, Pamekasan itu kini menjadi Presma di NHM.
Bagi Laila, kodrat perempuan tidak lantas menjadi hambatan untuk menjadi pemimpin. RA Kartini, lanjut dia, telah berupaya memperjuangkan hak para wanita dalam kesetaraan gender, lalu hasilnya kenapa tidak mau dimanfaatkan.
“NHM itu sejak berdiri dulu, presmanya cowok terus baru pas saya ini cewek’. Kalau misalkan kita terpaku harus cowok terus, jadi gunanya ibu kartini itu berjuang untuk apa?,” kata dia, Jumat, 8 Oktober 2021.
Berani Memimpin Untuk Mengubah Mindset Masyarakat
Laila bilang motivasi seseorang ingin jadi pemimpin cukup beragam. Namun untuk dia pribadi, menghilangkan stigama ‘perempuan tidak bisa menjadi seorang pemimpin’ adalah dorongan utama. Padahal, sambung dia, kreativitas, eksekutor dan konseptor tidak memandang gender.
“Hal ini motivasi saya sehingga berani maju untuk menjadi pemimpin. Karena stigma yang beredar di masyarakat itu gini; ‘ih kamu cewe’, kamu mau kemana, kamu bisa apa, kamu terikat,” ujar dia.
Selama menjadi pemimpin, Laila mengaku banyak menemukan batu sandungan. Kendati demikian, rintangan yang dihadapi tidak lantas membuatnya down, bahkan membatasi kodratnya sebagai perempuan.
“Karena begini, ketika menjadi pemimpin dibawah kita ada laki- laki dan ada perempuan. Jadi harus memang memahami keduanya.
Kalau beralasan kepemimpinan berdasarkan pada gender, rasa rasanya sepertinya penelitian itu harus diteliti kembali, karena kevalidannya belum bisa dibuktikan,” papar dia.
Awal Memimpin Nilai Akademi Merosot

Laila menempuah strata D-3 di NHM melalui jalur beasiswa. Ketika bulan pertama menjadi Presiden BEM, nilai akademik dia merosot dari angka Ip 3,7 menjadi Ip 3,4.
Laila mengaku sempat ketar ketir akibat nilainya anjlok. Bahkan dianggap sebagai pengalaman paling buruk semasa kuliah. Namun Lalila mampu keluar dari kemerosotan itu, semester berikutnya, nilai dia kembali meningkat diangka IP 4.00.
“Mungkin karena proses bulan pertama, karena proses penyesuain diri. Kan namanya orang terjun ke politik tak mungkin langsung sesuai,” ungkap dia.
Laila meminta rekan- rekan mahasiswa lain tidak mencontoh soal nilainya yang anjlok. Karena saat terjun menjadi pemimpin, Laila mengaku usianya masing belum matang.
“Yang ada dalam diri saya hanya rasa menggebu- gebu. Padahal saya belum mempunyai pengalaman yang kuat, manajemen yang sehat, hanya diawali rasa menggebu-gebu, saya gak terima kalau cewek dibilang gak bisa apa apa,” tutur dia.
Cara Berbagi Antara Waktu Akademik dan Organisasi
Sebagian orang beranggapan kesibukan kuliah di fakultas kesehatan berbeda dengan mahasiswa pada fakultas lainnya. Karena selain menerima materi kuliah, praktikum juga sering didengar di dunia mahasiswa kesehatan.
Namun ungkapan Laila berbeda dengan apa yang difikirkan orang selama ini. Ketika berbicara manajemen akademik dan organisasi, proses belajar lebih sedikit dari pada aktivitas nongkrong.
“Kita jujur saja kk! kita lebih banyak nongkrong dari pada belajar. Jadi coba kita kurangi waktu nongkrong dan tidur untuk berorganisasi,” ucap dia.
Menurut Laila, dalam siklus 24 jalam sebenarnya banyak waktu yang digunakan hanya untuk istirahat. Memang sebagian orang ada yang di date line, Sebagian mengerjakan tugas tepat waktu, namun sesudah itu pasti ada waktu lowong.
“Jadi kesimpulan secara total sebenarnya bukan waktu kita yang tidak cukup, tapi kita saja yang malas,” tegas dia.
“Kita jujur saja, kalau ditackshow itu kita berbicara saya mengatur waktu saya kita seperti ini, enggak, kita hanya mengurangi tingkat presentase kemalasan saja,” imbuh dia.
Pesan Khusus Untuk Milenial Perempuan
R.A Kartini menurut Laila telah berjuang dengan jiwa dan raga soal kesetaraan gender. Untuk itu, Ia meminta agar demikian tidak disia- siakan oleh milenial perempuan.
“Ada yang bilang kesempatan tidak akan datang dua kali. Jadi selagi kesempaan itu ada, silahkan digapai. Jangan membatasi demorasi diri sendiri,” pintanya
Jika demokrasi diri sendiri dibatasi, Laila mengatakan para perempuan tak akan bisa mengeksploitasi potensi diri, sehingga kata manfaat sukar melekat pada sosok perempuan.
“Mungkin orang lain beranggapan, ! oh kamu terlalu produktifity, toh itu hanya katanya, nyatanya kita lapar makan, ngantuk tidur, capek istirahat,” tutup dia mengakhiri pembicaraan.
Abdi


