
Penanews.id, BANGKALAN – Pada 2020, survei oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menyebutkan potensi Gen-Z (rentang usia 14-19 tahun) terpapar radikalisme mencapai 12,7 persen. Sementara generasi millenial (berumur 20-39 tahun) mencapai 12,4 persen.
Data ini diungkapkan Anggota MPR Hasani bin Zuber dihadapan pengurus ikatan mahasiswa alumni Nurul Cholil (IMANC) saat mensosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan yang kedua kali, di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, 26 Mei 2022.
Menurut Hasani, data itu tentu memprihatinkan. Sebab itulah, dia gencar mensosialisasikan kepada generasi muda betapa pentingnya memegang teguh nilai-nilai Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam menghadapi virus radikalisme dan intoleransi, nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan untuk menghalau berbagai macam hal yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa.
Bahkan, lanjut politikus Demokrat ini, tak hanya Gen-Z dan Milenial saja, Survei nasional Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah tahun 2018 mengindikasikan 63,07 persen guru memiliki opini intoleran pada pemeluk agama lain.
“sikap intoleran dan paham radikalisme mempunyai kecenderungan meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” Ujar Hasani.
Yang perlu diwaspadai dan sadari, kata Hasani, pergerakan kelompok intoleran ternyata dilakukan secara sistematis dengan tujuan politis parsial. Bahkan mereka tak jarang mengatasnamakan gerakannya atas nama rakyat dan ummat, padahal sejatinya hanya kamuflase semata.
“Hati-hati bermedsos, laporan Litbang Kompas tahun 2021 mengungkap media sosial menjadi sarana yang paling besar dalam melancarkan intoleransi, yakni sebesar 51,9 persen,” Ungkap Hasani.
EMbe







