Baca Juga:
Penanews.id, JAKARTA – Tanaman porang (Amorphophallus muelleri blume) telah menjadi primadona di kalangan para petani Indonesia. Harga yang menjanjikan membuat tanaman ini masuk klasifikasi umbi-umbian sering diburu oleh masyarakat.
Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan, tanaman satu ini memiliki peluang besar untuk ekspor. Hal itu menjadi nilai strategis bagi tanaman porang.
Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University Edi Santosa mengungkapkan, tanaman porang memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena kandungan senyawa yang ada di dalamnya, Kamis (22/04/21).
Berdasarkan penelitiannya, tanaman porang ini memiliki kandungan senyawa glukomanan yang tinggi dan dapat dimanfaatkan untuk pelapis obat di bidang medis.
“Senyawa glukomanan ini dinilai dapat menjadi sumber bahan pangan yang sehat, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, mencegah kanker, menurunkan berat badan, dan mengatasi sembelit,” ungkap Edi.
Edi menambahkan, dari 200 spesies tanaman amorphophallus hanya ada tiga jenis yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Jenis tersebut adalah amorphophallus konjac, amorphophallus paeoniifolius (suweg) dan amorphophallus muelleri (porang atau iles-iles).
“Dari tiga jenis tanaman komersial ini, di Indonesia yang paling banyak berkembang hanya ada dua yaitu paeoniifolius dan muelleri,” katanya.
Ia menyebutkan, tanaman porang awalnya merupakan tanaman hutan. Pemanfaatan porang dimulai sejak masa penjajahan Jepang di tahun 1942. Ketika itu tentara Jepang memanfaatkan porang sebagai logistik perang
Edi menjelaskan, tanaman porang mulai intensif dibudidayakan sejak tahun 1980-an. Saat itu, Perhutani mengintroduksi porang atau iles-iles ke Cepu. Tanaman porang tersebut ditanam di bawah tegakan tanaman jati.
Soal budidaya, porang dapat ditanam di bawah naungan ataupun lahan sawah terbuka. Mudahnya budidaya porang ditanam di tanah beriklim tropis di Indonesia ini membuatnya semakin populer di kalangan petani.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dalam talkshow bertajuk “Strategi Pengembangan Porang sebagai Komoditas Mahkota” di Bogor, Jawa Barat, Maret 2021 lalu mengungkapkan, komoditas porang memiliki potensi besar sebagai komoditas mahkota karena permintaan ekspornya terus meningkat sebagai bahan pangan alternatif dan bahan baku kosmetik.
Syahrul membeberkan, Kementrian pertanian tengah fokus mengembangkan tanaman porang karena memiliki pasar ekspor yang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Pasar ekspor porang meliputi Jepang, Taiwan, Korea dan China serta beberapa negara di Eropa.
Kementan mencatat ekspor porang periode Januari hingga 28 Juli 2020 sebesar 14.568 ton dengan nilai Rp 801,24 miliar. Sebelumnya, ekspor porang selama 2019 sebanyak 11.720 ton senilai Rp 644 miliar.
Komoditas porang dalam bentuk tepung dan chips saat ini di ekspor ke 16 negara antara lain China, Jepang, Thailand, Taiwan, dan Myanmar. Beberapa negara lainnya masih meminta kepada Indonesia untuk mengekspor komoditas porang ke negaranya,” ujar Syahrul.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan Fadjri Djufri menambahkan, saat ini pemerintah telah menyiapkan teknologi modern untuk mengakomodasi kepentingan produksi komoditas porang dari hulu sampai hilir.
Menurut dia, Kementerian pertanian juga sedang menyiapkan sistem pengolahan pasca-produksi porang seperti pembuatan alat pengolahan porang sederhana untuk meningkatkan nilai jualnya.
“Kementerian Pertanian saat ini sudah melepas Porang Madiun 1, serta sedang mengidentifikasi porang unggul lainya. Alhamdulilah kami juga telah menemukan formula percepatan pembibitan Porang yang lebih canggih lagi melalui kultur jaringan,” jelas dia. RZL
Sumber: kompas.com








