
Penanews.id, BANGKALAN – Ratusan nelayan di perairan Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, Jawa Timur, kembali menggelar aksi protes. Sekitar 120 perahu nelayan dari Desa Tengket dan Arosbaya menyuarakan kekhawatiran mereka atas maraknya penggunaan jaring trawl di perairan setempat oleh nelayan dari luar daerah.
Baca Juga:
Para nelayan tersebut berangkat bersama-sama dari bibir pantai Arosbaya menuju tengah laut, di lokasi yang diduga sering menjadi area operasi kapal-kapal penangkap ikan dengan jaring trawl. Alat tangkap yang dikenal sebagai pukat harimau itu diduga digunakan oleh nelayan dari luar Madura, khususnya dari Gresik dan Lamongan.
Menurut Moh Sahid, salah seorang nelayan Arosbaya, aktivitas penangkapan dengan jaring trawl biasanya berlangsung dari malam hingga menjelang Subuh. Sementara itu, para nelayan lokal telah beraktivitas hingga pukul 20:00 WIB dan selanjutnya beristirahat di rumah masing-masing.
Ia mengungkapkan bahwa kegiatan nelayan luar Madura tersebut telah berlangsung cukup lama. Meski sebelumnya telah diberikan peringatan, praktik penangkapan yang merusak terumbu karang ini masih terus berlanjut. Hal tersebut dinilai sangat merugikan nelayan lokal dan memicu kemarahan mereka.
“Kami pernah menangkap nelayan yang menggunakan trawl dan melepaskannya setelah ada komitmen dan komunikasi yang baik. Namun, mereka ternyata kembali beroperasi,” jelas Sahid.
Sahid juga menyatakan bahwa nelayan Bangkalan telah melaporkan maraknya penggunaan jaring trawl oleh nelayan luar tersebut kepada instansi terkait. Sayangnya, hingga saat ini belum ada tindak lanjut yang konkret.
“Kami khawatir, jika dibiarkan berlarut-larut, akan memicu kekerasan. Masyarakat sudah sangat resah dengan kehadiran jaring trawl ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa jika tuntutan nelayan Desa Tengket dan Arosbaya tidak dipenuhi, mereka akan menggelar demonstrasi besar-besaran.
Dalam aksinya, ratusan nelayan dari kedua desa tersebut membentangkan sejumlah poster bertuliskan, “Pak Prabowo stop nelayan trawl di perairan kami Arosbaya Bangkalan”. Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap aktivitas nelayan dari luar Madura.
Sebelum bergerak ke tengah perairan, para nelayan berkumpul terlebih dahulu di bibir pantai. Total perahu dari kedua desa mencapai 205 unit, namun yang digunakan untuk aksi protes ke tengah laut sekitar 120 perahu.
Sesampainya di lokasi, aksi protes sempat diwarnai kejar-kejaran dengan salah satu kapal yang diduga menggunakan jaring trawl. Sayangnya, kapal tersebut berhasil melarikan diri.
Sementara itu, Kasatpolair Polres Bangkalan, Iptu Muarib, mengaku telah melakukan patroli rutin untuk mencegah penggunaan jaring trawl. Ia berjanji akan meningkatkan intensitas patroli guna mengantisipasi praktik serupa oleh nelayan luar Bangkalan.
“Kami juga telah berkoordinasi dengan Satpolair Gresik mengenai kejadian ini. Patroli rutin akan terus kami laksanakan untuk mencegah penggunaan jaring trawl oleh nelayan dari luar Bangkalan,” tegasnya.
IMAM






