
Penanews.id, Sampang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik di Kabupaten Sampang, Madura, menuai sorotan. Sejumlah wali murid menilai menu yang disajikan tidak sesuai dengan standar gizi dan petunjuk teknis yang ditetapkan pemerintah.
Baca Juga:
Salah satu wali murid, Lutfi Ali dari Kecamatan Sokobanah, mengaku kecewa dengan menu MBG yang disajikan di SDN Tamberu Barat 1. Ia menilai makanan yang diterima anak didik sangat minim gizi dan jauh dari standar kalori yang telah ditentukan.
“Menu yang diterima sangat tidak layak dan jauh dari standar yang sudah ditetapkan,” kata Lutfi, Rabu (12/11).
Menurut Lutfi, menu yang dibagikan oleh sebuah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Tamberu itu, hanya berisi nasi putih, satu potong tahu, kuah rawon tanpa daging, dan beberapa butir lengkeng. Ia menilai komposisi itu tidak memenuhi kebutuhan gizi minimal anak sekolah.
“Kami tidak menolak programnya. Tapi anak-anak butuh makanan bergizi, bukan sekadar mengenyangkan. Kalau seperti ini terus, tujuannya tidak akan tercapai,” ujarnya.
Lutfi juga menyebut, menu serupa telah beberapa kali disalurkan sejak awal pekan. Ia berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi terhadap pihak penyedia.
“Program ini jangan dijadikan ladang mencari keuntungan pribadi. Kalau pelaksanaannya tidak sesuai juknis, yang jadi korban adalah anak-anak, calon masa depan bangsa,” tegasnya.
Ketua Komisi IV DPRD Sampang, Mahfud, meminta penyedia MBG menjalankan amanah dengan benar. Ia mengingatkan bahwa setiap porsi MBG memiliki alokasi anggaran yang jelas dari pemerintah.
“Setiap porsi bernilai Rp10 ribu. Jangan dibuat mainan, karena yang menjadi korban adalah peserta didik,” ujar Mahfud.
Mahfud menegaskan, program MBG merupakan tanggung jawab moral dan sosial yang harus dijalankan sesuai dengan standar operasional.
“Jika penyajian menu tidak sesuai standar, segera diperbaiki sebelum dilaporkan ke Badan Gizi Nasional (BGN),” katanya.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas nasional yang mulai diterapkan secara bertahap pada 2025. Program ini menyasar pelajar dari tingkat PAUD hingga SMA/SMK dengan tujuan menurunkan angka stunting dan meningkatkan asupan gizi harian anak sekolah.
Pemerintah menargetkan distribusi makanan bergizi kepada lebih dari 80 juta peserta didik di seluruh Indonesia melalui kerja sama dengan SPPG di tiap daerah.
IMAM






