
Penanews.id,BANGKALAN- Khotimah (31) hingga kini hanya bisa bersabar menunggu panggilan dari RS dr. Soetomo, Surabaya agar alat bantu tulang portabel yang melekat pada bagian pahanya segera dilepas.
Warga Dusun Telaga Nangka, Burneh, Bangkalan ini, 20 Maret 2019 lalu, bersama suaminya mengalami kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) di Jl. Raya Tonjung, area jembatan dekat kantor lama Mapolsek Burneh.
Pengakuan Khotimah, Ia dan suaminya diseruduk pick up pengangkut ayam. Atas kejadian itu, suaminya langsung meninggal ditempat. Sementara dirinya mengalami luka-luka serta tulang lengan dan tangan kanan, paha hingga betis bagian kanan patah.
“Kejadiannya waktu itu subuh mas. Suami saya langsung meninggal ,” kata dia membuka cerita kepada Penanews.id. Rabu, 2 Februari 2022.
Khotimah mengisahkan, pasca kejadian pihak keluarga tidak tinggal diam. Ia langsung dibawa ke RS dr. Soetomo untuk menjalani perawatan medis. Selama perawatan, operasi yang dijalaninya sudah 3 kali.
“Operasi tulang tangan, lengan dipasang pelatina, Alhamdulillah ini hasilnya,” tutur dia.
Khotimah mengatakan operasi terakhir dijalani pada bulan Idul Adha, tepatnya bulan Juli 2021. Operasi ini kata dia memasang pelatina pada bagian tulang paha dan betis.
“Setelah operasi, lalu saya di pasang besi (alat bantu tulang portebel) ini di (paha) ini. Namun sampai sekarang belum dilepas oleh pihak rumah sakit,” ujar dia.
Khotimah berujar, dokter yang menangani mengatakan alat tersebut paling lama dilepas 3 bulan pasca operasi. Namun hingga bulan Februari 2022 ini tak kunjung ada panggilan dari RS dr. Soetomo.
“Jadwal awal pelepasan katanya bulan desember. Karena ada corona, lalu enggak jadi. Kemudian katanya mau dikabari, karena menyesuaikan dengan jadwal antrian. Tapi kok gak ada kabar apa- apa,” ucap dia.
Khotimah sangat berharap alat tersebut segera bisa dilepas. Selain ingin melatih berdiri tegak, juga agar segera sembuh. Pengakuan dia, pahanya setiap hari nyeri.dan terlihat membengkak.
“Pengen cepat bisa jalan. Kasian anak saya, yatim. Nyeri mas kalau terus seperti ini,” keluh dia.
Keluh kesah Khotimah ini ternyata tidak hanya terdengar pihak keluarga. Akan tetapi juga berhembus ke telinga Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Mathur Khusairi. Ketika dihubungi melalui saluran telepon, Mathur mengaku perihatin atas pelayanan Rs dr. Soetomo.
“Seorang korban kecelakaan yang mengalami patah tulang, harus pen, dengan rangkaian penyanggah di kaki sampek bengkak, itu bertahan sekitar sekitar 1 tahun lebih itu luar biasa. Saya tidak tahu secara medis, otopedi itu, kapan semestinya pen dibuka, dan orang itu diperediksi sudah normal kondisinya,” ungkap dia.
Seharusnya tim dokter kata Mathur aktif memantau, bukan pasien yang harus terus pro aktif. Berdasarkan informasi yang diterima dari pihak keluarga, sambung dia, pasien telah berupaya untuk control dan meminta jadwal kapan pen dan penyaggah bisa dilepas dari tubuhnya.
“Tapi melihat dari lamanya saya yang awam ilmu medis ini merasa gak wajar,” cetus Politisi PBB itu.
Atas hal itu, pria yang getol menyuarakan pemberantasan korupsi itu miminta jajaran direksi Rs dr. Soetomo melayani masyarakat dengan sekala Prioritas, mengingat Rs tersebut sebagai rujukan di indonesia bagian timur.
“Jadi saya minta mohon juga diperhatikan pasien dari jatim, khusunya madura,” pinta dia.
Mathur juga meminta pihak Rs Soetomo untuk menyediakan nomor antrian yang jelas dan terbuka untuk tindakan operasi yang bersifat urgen sehingga bisa diketahui khalayak publik.
“jika nomor antrian tidak dibuka ke publik, nantinya kucing kucingaan. Nanti malah ada arang punya jabatan, pengaruh, bisa menggeser antria orang, kalu dibuka, biar adil pelayanna dibuka sekalian. Supaya semua orang bisa memantau secara secara online,” tegas dia.
Tak hanya itu, Alumni IAIN Sunan Ampel itu jug mendorong pihak Rs Soetomo menyediakan kontak center yang cepat memberikan resspon kepada pasien ketika dikonfirmasi.
“Saya dari dulu merekomendasikan seperti itu, namun belum dilakukan oleh rumah sakit itu,” beber dia.
Hingga berita ini dinaikkan, Penanews.id belum bisa melakukan konfirmasi untuk meminta penjelasan dari pihak Rs dr. Soetomo ikhwal pasien asal Bangkalan, yang telah lama menunggu dilepas alat penyanggah dibagian pahanya itu.
Abdi







