
Penanews.id, JAKARTA – Sebelum dikenal sebagai seorang investor kawakan, Lo Kheng Hong, pernah bekerja di dunia perbankan selama 17 tahun.
Karena pengalaman itu, Lo Kheng mengaku tidak pernah menginvestasikan uangnya di bank untuk jangka panjang.
Lo Kheng menilai investasi di bank bisa membuat nilai uang tergerus oleh inflasi.
“Karena bunga kecil, sedangkan harga-harga naik. Menurut saya orang yang menaruh uang di bank membuat dirinya miskin pelan-pelan karena inflasi terus,” ujar Lo dikutip dari tayangan YouTube Econand, Jumat, 30 Juli 2021.
Selain bank, dia juga ogah berinvestasi di obligasi karena imbal hasilnya kecil. Bagi Lo Kheng, pasar saham seperti Bursa Efek Indonesia, menjadi pilihannya karena imbal hasilnya besar bahkan yang terbesar dibanding pasar saham dunia.
Di samping itu, investasi saham memiliki keunggulan ketimbang investasi lainnya. Melalui investasi saham, masyarakat dengan modal kecil bisa turut memiiki perusahaan besar atau multinasional, seperti BCA hingga Astra Internasional.
“Dengan (investasi di) bursa, orang dengan kemampuan kecil bisa merasakan punya perusahaan besar,” katanya dilansir kompas.com.
Di sisi lain, investor saham umumnya selalu mengharapkan hal-hal baik. Musababnya, bila hal buruk terjadi, hal itu akan berpengaruh terhadap laju indeks harga saham atau IHSG. Lo mencontohkan pandemi Covid-19 yang sempat menghantam indeks dari level 6.000 ke 5.000.
Situasi ini berkebalikan dengan orang yang menyimpan uangnya dalam bentuk dolar. “Orang yang memegang dolar biasanya mengharapkan yang buruk yang terjadi. Kalau situasi buruh, rupiah melemah, dolar menguat, dia untung. Beda dengan. Dia selalu mengharapkan hal baik,” kata Lo Kheng Ho.
Tapi apa yang diungkapkan Lo Kheng ini tak sesuai dengan data Otoritas Jasa Keuangan. Menurut lembaga ini, pada Juni 2021 Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan justru mencatatkan pertumbuhan dua digit sebesar 11,28 persen (yoy).
EMbe







