
Penanews.id, JAKARTA- Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, upaya menurunkan prevalensi perokok anak tidak hanya diselesaikan dengan regulasi. Namun, Upaya paling efektif dapat diselesaikan melalui gerakan sosial.
Saat ini, angka prevalensi perokok anak terus meningkat. Pada 2019, angka prevalensi merokok anak sebanyak 9,1 persen. Jauh melebihi target Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2014-2019 yang mematok 5,4 persen angka prevalensi perokok anak.
“Saya terkejut di anak-anak muda Indonesia yang tinggi sekali prevalensi perokok,” ucapnya, (3/6/2021)
Menurut dia, pendekatan gerakan sosial paling efektik lantaran menyentuh hati. Ada satu yang mesti dilihat bagaimana mengubah program ini, yang dulunya milik pemerintah, WHO, UNION menjadi satu gerakan, menjadi satu movement, yang dimiliki oleh satu masyarakat, terutama anak-anak muda Indonesia.
Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri Yusharto Kuntoyuno menuturkan, sesuai RPJMN, pemerintah menargetkan 374 kabupaten/kota sudah harus menerapkan KTR pada 2021 dan sebanyak 424 kabupaten/kota setahun sesudahnya.
Selain itu, pemerintah juga mematok target pada 2022, ada 175 kabupaten yang memiliki layanan berhenti merokok, minimal 40 persen dari jumlah puskesmas yang ada.
Menurut dia, pemerintah sudah menargetkan turunnya prevalensi perokok anak dari dari 9,1 pada 2019 turun menjadi 8,7 di 2024.
“Jika target pelaksanaan KTR dan layanan berhenti merokok, serta turunnya prevalensi perokok anak tidak tercapai, ini menjadi indikator kementerian untuk menilai performa pemerintah daerah,” ujarnya.
Sumber: tempo.co







