Penanews.id
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Senin, 28 September 2026
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Penanews.id
No Result
View All Result
Home Opini

Hidup Dalam Gelembung

TwitterFacebookWhatsApp

Oleh: Made Supriatma

Saya sedang mengikuti workshop tentang media sosial di Asia Tenggara. Berbagai presentasi disampaikan oelh ahli-ahli dari beberapa negara.

Baca Juga:

Perlunya Suksesi Kekuasaan

Moral Politik Transaksional

Sungguh menarik. Hampir semua presenter menunjukkan bagaimana media sosial telah berubah. Awalnya, warga negara menggunakan media ini untuk menyuarakan pendapat dan keinginan mereka kepada penguasa. Inilah ‘demokratisasi’ informasi yang dilakukan lewat media.

Namun ini tidak berlangsung lama. Beberapa tahun terakhir ini, para penguasa sangat sadar mereka tidak bisa membendung arus informasi. Seperti biasa dalam politik, jika Anda tidak bisa mengalahkan lawan, Anda harus memeluknya, bekerjasama, dan menggunakannya untuk kepentingan Anda.

Itulah yang terjadi dalam media sosial. Penguasa memakai media sosial dengan sangat efektif. Di banyak negara, taktik ini berhasil membungkam demokrasi.

Anda tentu tahu bahwa Donald J. Trump memenangkan pilpres di Amerika tahun 2016 karena media sosial. Dia dibantu ooleh Russia. Sebuah strategi politik yang sangat cerdik. Sejak saat itulah para penguasa di dunia, khususnya para tiran dan diktator, belajar untuk bagaimana menguasai media sosial untuk kepentingan pelestarian kekuasaan mereka.

Pendeknya, media sosial menjadi alat politik yang sangat penting — dan efektif. Tidak ada pemilihan umum yang dilakukan tanpa media sosial. Twitter, Facebook, Instagram, dan tentu saja WhatsApp (yang dimiliki oleh Facebook) menjadi medium kampanye yang harus dikuasai para politisi.

Kita sudah mengalami ini di Indonesia. Naiknya Presiden Joko Widodo tidak bisa dilepaskan dari bantuan media sosial. Itu sudah dimulai sejak tahun 2014. Tidak ada politisi Indonesia yang memiliki infrastruktur media sosial sebaik Jokowi.

Pemiihan presiden 2019 telah membawa peran media sosial ke tingkat yang lebih tinggi. Ini adalah periode naiknya kekuatan strategis media sosial lewat ‘agency’ yang bernama “buzzer” dan “influencer.” Merekalah yang membentuk opini dan membuat informasi yang menguntungkan politisi yang mereka dukung.

Kita menyaksikan bagaimana para ‘buzzer’ dan ‘influencer’ ini sangat aktif. Mereka berperang membela kandidatnya (membela yang bayar!) dengan kegigihan seperti seekor anjing menjaga anak-anak yang baru lahir. Hasilnya, kita tahu, pemilihan kita menjadi sangat ‘toxic,’ sangat beracun.

Pemilu yang seharusnya menjadi wujud demokrasi yang beradab, ditangan para buzzer menjadi sangat brutal dan biadab. Perkawanan pecah, keluarga tercerai berai, bahkan komunitas menjadi berantakan akibat agitasi, propaganda, dan provokasi.

Bahkan setelah pemilihan umum selesai, peranan buzzer dan influencer tidak menyurut. Hampir setiap pejabat memeliharanya. Bahkan Kementrian Kominfo hendak melestarikannya dengan menugaskan ASN yang memiliki banyak pengikut di sosial media untuk menyebarkan “keberhasilan” pemerintah.

Buzzer dan influencer sekarang sudah secara resmi dilembagakan ke dalam tubuh negara. Kebijakan dan keputusan pemerintah sekarang dijaga oleh para buzzer. Merekalah yang bertugas membungkam kritik dan menciptakan realitas yang lebih sesuai dengan versi penguasa.

Pemerintah pun makin bertingkahlaku dengan membuat kebijakan yang lebih “made for social media.” Kalau bisa, kebijakan pemerintah harus ‘instagramable,’ harus indah di instagram dan menarik banyak like dan followers.

Tidak mengherankan jika pemerintah sekarang ini sangat terobsesi dengan golongan ‘millenial’ — yang selalu dipersonifikasikan sebagai orang muda, kaya, sukses, dan punya perusahan start up. Seakan negara ini ada hanya untuk para millenials. Seakan warga negara yang hidup bernafas makan dan berak itu tidak ada. Warga negara tidak lagi berbentuk fisik, namun mereka semua hanyalah ‘netizen.’

Apakah konsekuensinya? Menurut saya sangat besar. Media sosial adalah sebuah bubble of realities (gelembung kenyataan). Kita semua hidup disana.

Namun, persoalannya menjadi sangat lain ketika bubble of realities ini menjadi alat pemerintahan, menjadi teknik dan instrumen kekuasaan.

Penguasa kita memperlihatkan sikap anti-korupsinya dengan bermain lenong (drama). Sementara di sisi yang lain, mereka melemahkan semua platform anti-korupsi. Semua platfrm anti-korupsi menjadi jinak oleh dramatisasi anti-korupsi yang tanpa drama itu.

Hari ini, saya membaca bahwa Menko Polhukam, Mahfud Md, mengatakan bahwa tidak ada pelanggaran HAM oleh pemerintah kepda masyarakat. Kita tahu ada banyak kasus HAM tidak selesai. Pemerintah sekarang memiliki tahanan-tahanan politik lagi. Lihatlah apa yang terjadi di Papua. Itu dilakukan bukan oleh pemerintah?

Penguasa kita hidup dalam gelembung realitas itu. Namun, saya ingin mengingatkan, barang siapa yang hiidup dalam gelembung harus siap dihempaskan ketika gelembung itu pecah!

*) artikel ini diambil akun facebook penulis

Tags: Media sosial dan penguasaTulisan made supriatma terbaru
142
VIEWS
TwitterFacebookWhatsApp

Related Posts

Mahasiswa Tewas Dipukuli Karena Tidur di Masjid, Bagaimana Sebenarnya Hukum Tidur di Masjid?

Mahasiswa Tewas Dipukuli Karena Tidur di Masjid, Bagaimana Sebenarnya Hukum Tidur di Masjid?

11 bulan ago
131
Meluruskan Narasi Negatif “Calon Tunggal”, Menuju Perhelatan Kontestasi Pilkada Bangkalan

Meluruskan Narasi Negatif “Calon Tunggal”, Menuju Perhelatan Kontestasi Pilkada Bangkalan

2 tahun ago
127
Efek Elektoral Dukungan Demokrat Ke Prabowo

Efek Elektoral Dukungan Demokrat Ke Prabowo

3 tahun ago
46
Perlunya Suksesi Kekuasaan

Perlunya Suksesi Kekuasaan

4 tahun ago
65
Pastikan Kita Punya Urgensi Dan Alasan Yang Kuat Untuk Mengubah Sistem Pemilu

Pastikan Kita Punya Urgensi Dan Alasan Yang Kuat Untuk Mengubah Sistem Pemilu

4 tahun ago
39
Moral Politik Transaksional

Moral Politik Transaksional

4 tahun ago
53
Next Post
Riyanto Banser

Riyanto Banser

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer

© 2019 @Penanews.id All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret

© 2026 Penanews.id All right reserved.

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In