• Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer
Kamis, 23 April 2026
Penanews.id
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Tidak ditemukan
Lihat Semua
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Tidak ditemukan
Lihat Semua
Penanews.id
Tidak ditemukan
Lihat Semua
Beranda Tekno

Hari Ini Wiji Thukul Dilahirkan, Aktivis 98 yang Hilang Tak Tentu Rimba

  • Jumat, 26 Agustus 2022 20:49
FacebookTwitterWhatsApp

Baca Juga:

. . .
Wiji Thukul. Dok tempo



Penanews.id, JAKARTA – Pada 26 Agustus diperingati sebagai hari kelahiran ke-59 Wiji Thukul. Pria bernama asli Widji Widodo ini merupakan salah satu tokoh aktivis sekaligus sastrawan yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Namun sejak tahun 1998 sampai sekarang, dirinya tak muncul lagi karena dinyatakan hilang.


Melansir ensiklopedia.kemdikbud.go.id, Wiji berasal dari kampung Buruh Sorogenen, Solo. Setelah tamat SMP pada 1971, ia sempat melanjutkan pendidikannya di Jurusan Tari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), namun terputus sampai kelas 11 karena drop out di tahun 1982.

Alasannya hanya satu, yaitu ingin bekerja demi menafkahi adik-adiknya yang masih kecil untuk lanjut sekolah.


Pasalnya, Thukul yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara memang lahir di dari keluarga Katolik dengan keadaan ekonomi sederhana.


Di Solo, ayahnya memiliki pekerjaan sebagai tukang becak, sedangkan ibunya terkadang menjual ayam bumbu untuk membantu perekonomian keluarga.

Oleh karenanya, Thukul perlu membantu mereka dengan pekerjaannya yang terbilang serabutan. Pekerjaan utamanya ialah sebagai loper koran.


Lalu pernah juga menjadi tukang calo karcis bioskop, sampai menjadi tukang pelitur furnitur di perusahaan mebel. Ketika bekerja sebagai tukang pelitur itu, sesekali ia sering mendeklamasikan puisinya untuk teman kerjanya.

Bakat menulis dan puisinya sudah lahir sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar, meskipun dikenal cadel. Hubungannya dengan puisi diperkuat ketika ia ikut dalam sebuah kelompok teater, yaitu Teater Jagalan Tengah (Jagat).


Bersama dengan rekan-rekannya ia mulai mengamen puisi dengan diriingasi alat musik rebana, gong, suling, kentongan, gitar, dan sebagainya.



Kemudian di tahun 1988, Thukul sempat bekerja menjadi wartawan Masa Kini. Meskipun hanya tiga bulan merasakan pekerjaan tersebut, namun ia telah melahirkan banyak sajak baik dalam maupun luar negeri.

Beberapa sajak terkenalnya dipublikasi dalam media cetak, di antaranya dalam Suara Pembaharuan, Bernas, Surabaya Post, Merdeka, Inside Indonesia (Australia), Tanah Air (Belanda).


Selain itu ada pun sajaknya bertebaran di pers mahasiswa, seperti Pijar (Universitas Gadjah Mada) dan Keadilan (Universitas Islam Indonesia).

Lalu ada dua kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo dan Darman dan Lain-Lain, diterbitkan di Taman Budaya Surakarta. Karir berpuisinya semakin cerah, ia sampai diundang membaca puisi oleh Goethe Institut di aula Kedutaan Besar Jerman di Jakarta pada rahun 1989.

Pada tahun 1991, ia membawakan puisi di Pasar Malam Puisi yang diselenggarakan Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta. Di tahun yang sama, Thukul bersama dengan W.S. Rendra menerima Wertheim Encourage Award yang diberikan oleh Wertheim Stichting di Belanda.

Suara Thukul kian lebih lantang dan membuatnya ikut bersama masyarakat sekampungnya, di sekitar pabrik tekstil PT Sariwarna Asli, untuk memprotes pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh pabrik tekstil itu.

Adapun puisinya berjudul Aku Ingin Jadi Peluru. Dalam puisi ini, ia sukses menemukan kata yang tepat untuk mewakili symbol perlawan terhadap rezim otoritarianisme. Tepatnya pada bait terakhir yang terdapat kalimat pendek berbunyi; “Hanya ada satu kata, ‘Lawan!'”

Karena suaranya yang lantang, pejuang revolusioner ini dikambing hitamkan sebagai provokator negara. Terutama di masa 1996 hingga 1998, banyak aktivis yang ditangkap atau diculik.

Akibatnya, sejak 1996, ia mulai hidup nomaden dari satu daerah ke daerah lainnya. Namun hal tersebut tak melunturkan semangatnya untuk menulis. Salah satu puisi pro-demokrasi yang dibuatnya saat masa genting ialah berjudul Para Jenderal Marah-Marah.

Sayangnya, hingga saat ini tubuhnya entah ke mana. Ia dinyatakan hilang semenjak istrinya melaporkan Thukul pada Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau KontraS.


Wiji Thukul pergi meninggalkan istrinya yang saat itu berprofesi sebagai buruh, serta anaknya bernama Fitri Nganthi Wani dan anak kedua mereka bernama Fajar Merah.

EMbe/ tempo.co


Tags: Aktivis 98Profil wiji thukulPuisi wiji thukulWiji thukul
160
Dilihat
FacebookTwitterWhatsApp

Berita Terkait

Tips Membeli Motor Seken, agar Tak Boncos

Tips Membeli Motor Seken, agar Tak Boncos

5 bulan yang lalu
17
Mengapa Rumah Zaman Kolonial Terasa Lebih Sejuk Meski Tanpa AC? Ini Alasannya

Mengapa Rumah Zaman Kolonial Terasa Lebih Sejuk Meski Tanpa AC? Ini Alasannya

1 tahun yang lalu
79
Giliran Tiga Hiu Paus Terdampar di Bawah Jembatan Suramadu, Ada Apa dengan Selat Madura?

Giliran Tiga Hiu Paus Terdampar di Bawah Jembatan Suramadu, Ada Apa dengan Selat Madura?

3 tahun yang lalu
96
Waktu yang Baik Buat Berdoa

Waktu yang Baik Buat Berdoa

3 tahun yang lalu
64
Sederet Fakta Wahyu Kenzo: ‘Orang Kaya’ yang Ditangkap Polisi Karena Robot Trading

Sederet Fakta Wahyu Kenzo: ‘Orang Kaya’ yang Ditangkap Polisi Karena Robot Trading

3 tahun yang lalu
162
Awas! Modus Baru Bobol M-banking Lewat Undangan Nikah Online, Sudah ada Korbannya!

Awas! Modus Baru Bobol M-banking Lewat Undangan Nikah Online, Sudah ada Korbannya!

3 tahun yang lalu
107
Berikutnya
Cerita Muhammad Rosul, Anak Muda yang Curi Perhatian di Puncak Harlah KMI

Cerita Muhammad Rosul, Anak Muda yang Curi Perhatian di Puncak Harlah KMI

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer

© 2019 @Penanews.id All Rights Reserved

  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret

© 2021 Penanews.id All right reserved.