• Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer
Selasa, 26 Mei 2026
Penanews.id
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Tidak ditemukan
Lihat Semua
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Tidak ditemukan
Lihat Semua
Penanews.id
Tidak ditemukan
Lihat Semua
Beranda Olahraga

Gol Maradona

  • Minggu, 14 November 2021 20:55
FacebookTwitterWhatsApp

Baca Juga:

Maradona Meninggal, Dunia Sepakbola Berkabung

Lima Perempuan Perkasa

Oleh Eduardo Galeano; Alihbahasa Mahfud Ikhwan


Saat itu 1973. Tim remaja Argentinos Juniors dan River Plate berhadap-hadapan di Buenos Aires.

Nomor 10 dari Argentinos menerima bola dari kipernya, melewati barisan depan River, dan terus melaju. Beberapa pemain mencoba menjegal langkahnya: ia melewatkan bola di bokong orang pertama, di antara kolong kaki pemain kedua, lalu membodohi yang ketiga dengan gerakan tumitnya. Lalu, tanpa berhenti, ia melumpuhkan para bek, melewati kiper yang terjerembab di tanah, dan kemudian menggulirkan bola ke jala. Di lapangan, tujuh bocah termangu dan merana, sementara empat sisanya cuma bisa ternganga.

Tim kanak-kanak itu, Cebollitas namanya, tak terkalahkan dalam 100 pertandingan dan menarik perhatian surat kabar. Salah seorang pemainnya, ‘si Racun’ julukannya, yang berumur tigabelas, sesumbar:

“Kami main untuk senang-senang. Kami tak pernah bermain untuk uang. Ketika uang datang, setiap orang bunuh diri untuk jadi bintang. Setelah itu, iri dengki dan mementingkan diri sendiri yang berjingkrang.”

Saat dia mengatakan itu, lengannya melingkari pundak pemain terbaik dan paling dicintai dari semuanya, yang badannya lebih pendek dan wajahnya lebih sumringah: Diego Maradona, bocah berumur duabelas dan baru saja mencetak gol hebat itu.

Maradona punya kebiasaan menjulurkan lidah saat sedang menyerang. Semua gol dicetaknya dengan lidah terjulur. Saat malam ia tidur dengan tangan memeluk bola, saat siang ia tampil ajaib dengan bola tersebut. Ia hidup di rumah reot di sebuah kawasan bobrok. Dan ia ingin menjadi mekanik pabrik.


*diterjemahkan dari Soccer in Sun and Shadow; trans. Mark Fried; Verso, 2003

Tags: Eduardo Galeanoesai Eduardo GaleanoMaradonaprofil Maradona
55
Dilihat
FacebookTwitterWhatsApp

Berita Terkait

Gelar Turnamen Volly, Cara Desa Larangan Sorjan Bangkalan Tekan Kenakalan Remaja

Gelar Turnamen Volly, Cara Desa Larangan Sorjan Bangkalan Tekan Kenakalan Remaja

6 bulan yang lalu
26
Mahasiswa Tewas Dipukuli Karena Tidur di Masjid, Bagaimana Sebenarnya Hukum Tidur di Masjid?

Mahasiswa Tewas Dipukuli Karena Tidur di Masjid, Bagaimana Sebenarnya Hukum Tidur di Masjid?

7 bulan yang lalu
116
Kwarcab Bangkalan Lepas Kontingen Pramuka Garuda ke Perkemahan Kwarda Jatim di Coban Talun

Kwarcab Bangkalan Lepas Kontingen Pramuka Garuda ke Perkemahan Kwarda Jatim di Coban Talun

7 bulan yang lalu
108
Kompetisi Sepak Bola U-12 Bupati Cup 2025 Digelar di Bangkalan

Kompetisi Sepak Bola U-12 Bupati Cup 2025 Digelar di Bangkalan

8 bulan yang lalu
37
Agus Kurniawan Terpilih Aklamasi, Bawa Semangat Baru untuk Kebangkitan IPSI Bangkalan

Agus Kurniawan Terpilih Aklamasi, Bawa Semangat Baru untuk Kebangkitan IPSI Bangkalan

8 bulan yang lalu
100
Perseba Bangkalan Tahan Imbang Gersik United FC dengan Skor 1-1

Perseba Bangkalan Tahan Imbang Gersik United FC dengan Skor 1-1

9 bulan yang lalu
58
Berikutnya
Ra Hasani Bin Zuber Jelaskan Alasan Kenapa Empat Pilar Kebangsaan Terus Disosialisasikan

Ra Hasani Bin Zuber Jelaskan Alasan Kenapa Empat Pilar Kebangsaan Terus Disosialisasikan

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer

© 2019 @Penanews.id All Rights Reserved

  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret

© 2021 Penanews.id All right reserved.