
Penanews.id, JAKARTA- Menteri BUMN Erick Thohir memberi tanggapan ihwal polemik kartu kredit untuk petinggi PT Pertamina (Persero).
Polemik ini muncul setelah Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengungkap bahwa dirinya mendapat kartu kredit dengan limit Rp 30 miliar.
Ahok sendiri ingin fasilitas kartu kredit untuk para petinggi Pertamina dihapus sebagai kontrol dari penggunaan yang tak tepat sasaran. Tak lama, keinginan itu pun tercapai.
Namun, perkara kartu kredit lain pun muncul. Dokumen kartu kredit Pertamina dengan limit Rp 420 miliar pun kemudian bocor.
Menurutnya Erick, langkah yang dilakukan Ahok merupakan bagian dari tugas pengawasan.
“Saya rasa begini, kan tugasnya seorang komisaris, mengawasi kinerja direksi, saya rasa itu hal-hal yang sah aja, dan ini bagian dari check and balance,” katanya dilansir dari detik.com.
Meski begitu, Erick juga meyakini kinerja direksi dengan penugasan yang diberikan memiliki profesionalisme yang tinggi. Erick juga menyebut, kartu kredit itu bukan untuk kepentingan pribadi.
Erick melanjutkan, kadang-kadang penggunaan kartu kredit penting apalagi saat ini era non tunai.
“Kadang-kadang kita memerlukan itu apalagi eranya ini kan era cashless, sekarang kan mohon maaf, saya aja nggak bawa dompet nih, nggak bawa uang cash, era cashless. Jadi kartu-kartu itu kadang-kadang dibutuhkan untuk operasional bukan buat pribadi. Tapi, apakah komisaris harus mengecek ya itu wajar saja, nanti kan masing-masing juga dilakukan,” terangnya.
EMBE

