penanews.id, JAKARTA – Ketika Presiden Joko Widodo mengunjungi NTT, warga begitu antusias ingin melihat presiden dari dekat hingga menimbulkan kerumunan.
Pengamat politik Rocky Gerung pun membandingkan kerumunan Jokowi itu dengan kerumunan yang membuat Habib Rizieq Shihab atau HRS di penjara.
Rocky Gerung mengatakan sebaiknya Presiden Jokowi berikan pernyataan bahwa dirinya mengakui menimbulkan kerumunan di NTT dan siap membayar denda.
“Sebuah drama yang akibatnya tragis, secara hukum oleh netizen, karena orang bandingkan langsung dengan Habib Rizieq Shihab atau HRS,” kata Rocky Gerung di kutip dari tasikmalaya.com
“Presiden harusnya langsung bilang, ‘oke saya buat kesalahan dengan membayar 50 juta’ itu lebih beradab supaya kontroversi berhenti,” Rocky Gerung menambahkan.
Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Saleh Partaonan Daulay menilai, pihak protokoler kepresidenan harus dievaluasi menyusul adanya kerumunan warga saat Presiden Joko Widodo mengunjungi Maumere, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/2/2021).
Saleh mengatakan, pihak protokol Istana Kepresidenan semestinya sudah mengetahui potensi timbulnya kerumunan warga dengan kehadiran Jokowi di Maumere.
“Mestinya sudah diantisipasi sebelumnya. Jadi kalau tidak diantisipasi, tentu ya kita perlu evaluasi dengan protokol itu,” kata Saleh dikutip dari kompas.com, Rabu (24/2/2021).
EMBE








