
Penanews.id, BANGKALAN – Curahan hati Raden Rizma Aulya Dwitasari kepada Bupati Bangkalan R. Abdul Latif Amin Imron soal biaya pendidikan yang belum gratis di SMK 1 Bangkalan, ternyata mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.
Hari ini, Kamis, 12 Agustus 2021, misalnya Bupati Bangkalan, Dewan Pendidikan, Ketua Komisi D DPRD Bangkalan, Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Provinsi Jawa Timur Cabang Bangkalan, Kepala Dinas Pendidikan Bangkalan, serta Kepala Dinas Sosial Bangkalan (Kadinsos) sampai menggelar rapat koordinasi (rakor) soal masalah biaya sekolah ini.
Dalam rakor tersebut, para stake holder itu membahas soal biaya pendidikan bagi siswa SMA atau SMK yang masuk kategori miskin, agar tidak mengalami seperti yang dialami Rizma, pelajar SMK 1 Bangkalan itu.
Ra Latif bercerita, pada saat dirinya menyalurkan bantuan sosial (bansos) sembako PPKM, Ia mendapat suguhan fenomena yang terjadi terhadap perjalanan pendididkan Rizma.
Tak hanya itu, dalam kesempatan itu kakak kandung Rizma, dimana dua tahun lalu juga siswa di SMK 1 Bangkalan, bercerita harus putus pendidikankanya lantaran tak mampu membayar biaya ujian.
Mendengar hal itu, Ra Latif mengaku langsung bertanya kepada Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Bangkalan, apakah tingkat SD dan SMP juga harus bayar?.
Kadisdik, kata Ra Latif, menjawab semua gratis.
“Kalau SMK kok ada bayaran ya?. seharusnya tidak ada. Selain ada bos dari pusat, juga ada bosda,” ujar Ra Latif penuh tanya.
Ra Latif mengatakan, tragedi yang menimpa Risma ini sempat dibuat status oleh Istri Bupati Bangkalan.
Saat dibuat status, lanjut Ra Latif, ada pihak yang meminta agar story WA itu dihapus. Jika tidak, maka Risma diancam akan dikeluarkan dari sekolah.
“Kalau itu terjadi, ini kejadian yang sangat tidak menyenangkan di pendidikan kita,” kata dia.
Ra Latif mengaku tidak akan mengetahui apa yang terjadi dalam dunia pendidikan Bangkalan jika tidak mendapat laporan. Dengan adanya laporan ini, lanjut dia, Ia mengaku beryukur dan berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali.
“Semoga ada koreksi pada tingkat struktural SMK itu. Kalau tidak ada perbaikan didalamnya, saya merasa akan terjadi hal serupa di kemudian hari,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Dewan Pendidikan Bangkalan Mahmudi Ibnu Khotib sangat menyayangkan jika sampai membiarkan masyarakat tidak mampu terancam putus pendidikan.
“Mereka tidak mampu, mau makan saja susah, apalagi bayar pendidikan. Berarti yang harus sekolah di SMK ini yang mampu bayar ya?. ujar dia bertanya- tanya pula.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Provinsi Jawa Timur Cabang Bangkalan Slamet Goestiantoko mengucapkan terimakasih banyak atas masukan dari semua pihak, atas kasus yang menimpa Risma. Ia berjanji akan segera menyelesaikan persoalan tersebut.
“Kami siap menyelesaikan. Prinsipnya gini, anak- anak miskin tidak boleh putus sekolah. Ini komitmen kita mulai dulu. Namun kasus demi kasus pasti ada. Kita akan memberikan pembinaan kepada kepala sekolah bagaimana kejadian seperti ini harus tidak terjadi lagi,” tandasnya.
Abdi


