Penanews.id, JAKARTA– Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT BANK Net Indonesia Syariah TBK yang akan berganti nama menjadi PT Bank Aladin Syariah Tbk menambah jajaran direksi. Tiga dari empat direksi baru yang ditunjuk pernah berkarier di PT visionet Internasional atau OVO.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, terdapat empat nama baru yang masuk dalam jajaran direksi Bank Net Syariah. Dyota Mahottama Marsudi didapuk sebagai Presiden direktur, Budi Santoso Kusmiantoro sebagai direktur keuangan dan strategi, Firdila Sari sebagai Direktur Digital Banking.
Doyyota sebelumnya menjabat sebagai senior Executive Direktur Vartex Ventures sejak 2018. Ia juga merupakan co-faunder startup Heppy yang juga menjabat sebagian chief operating officer sejak 2016 hingga 2018, setelah sebelumnya lama berkarier di The Boston Consulting Group.
Budi Santoso Kusmiantoro sebelumnya berkarier sebagai chef of technologi OVO. Ia juga pernah menjabat sebagai VP of Engineering Traveloka dan sempat berkiprah di Sillicon Valley bersama google dan paypay.
Faradila Sari juga sebelumnya berkarier di OVO sebagai head of product.Ia pernah pula menjabat Vice President Mobile Product Commonwaelth Bank dan meneger Business Davelopment and Content K-vision.
Keempat jajaran direksi baru Bank Net Syariah ini baru akan resmi menjabat setelah melalui uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test Otoritas Jasa Keuangan.
Sementara itu, Basuki hidayat, Mohammad Riza, dan Baiq Nadea Dzurriatin kembali ditunjuk sebagai direktur operasional, direktur bisnis, dan direktur kepatihan.
Dalam RUPSLB tersebut, pemegang saham juga memutuskan untuk mengangkat Nurdias Alvin Pattisahusiwa sebagai Presiden Komisaris.Nurdianz sebelum menjabat sebagai chief executive officer Mandiri Investasi. Nurdias juga baru akan resmi menjabat setelah melalui uji kepatutan dan kelayakan OJK.
Ationo Teguh Basuki yang sebelumnya Presiden komisaris ditunjuk sebagai komisaris, Fransca Ekawati tetap sebagai komisaris independen, sedangkan Hadi Sunaryo dicopot dari jabatan komisaris independen.
RUPSLB juga menetapkan perubahan nama perseroan dari PT Bank Net Syariah Tbk menjadi PT Aladin Syariah Tbk.
Hijrahnya para eks petinggi OVO memicu kabar masuknya perusahaan financial technology tersebut ke Bank Net Syariah. Namun kabar ini tak dibantah atau dibenarkan oleh pihak OVO.
Headline of Corporate Communication OVO Harumi Supit mengatakan pihak nya saat ini berfokus pada pengembangan layanan pembayaran digital dan sejumlah layanan lainnya, seperti investasi, asuransi dan pinjaman.
” Upaya untuk membuka akses terhadap layanan finansial ini sesuai dengan visi OVO untuk mendorong inklusi dan memajukan masyarakat serta UMKM sebagai pemulihan ekonomi,” ujar Harumi saat dikonfirmasi terkait kemungkinan OVO menjadi pemegang saham Bank Net Syariah.
Bank Net Syariah bari menggelar penawaran saham perdana atau initital public offering (IPO) Pada awal februari lalu dengan harga RP 103 per saham. Hingga saat ini, saham perusahaan yang akan berganti nama menjadi Bank Aladin ini telah melesat lebih dari 2.000% ke level RP 2.890 per saham jumat (9/10)
Berdasarkan data stockbit, price to book value baru ini telah mencapai 58,15 kali, sedangkan price to equity ratio mencapai 317,85 kali.
Kenaikan harga saham yang luar biasa membuat OJK menetapkan emiten berkode saham BANK ini ke dalam kategori unusual market.
Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama mengatakan kenaikan harga saham emiten-emiten baru, termasuk Bank Net Syariah terjadi karena saat penetapan IPO, valuasinya menarik. Namun, investor tetap harus waspada jika saham-saham IPO tersebut sudah masuk dalam kategori UMA.
Kinerja Bank
Bank Net Syariah hingga kini belum menerbitkan laporan publikasi tahun 2020 maupun kuartal IV 2020. Berdasarkan laporan keuangan hingga September 2020, total modal inti Perseroan hanya mencapai 651,29 miliar, naik tipis dibandingkan September 2019 Rp 593,99 miliar.
Total pembiayaan disalurkan hanya mencapai Rp 66 juta, anjlok dibandingkan akhir tahun lalu Rp 5,07 miliar. Sebagian besar aset disimpan pada penempatan BI RP 255,34 miliar dan surat berharga Rp 411,49 miliar.
Sementara itu, dana yang dihimpun hanya sebesar Rp 40,15 miliar dalam bentuk dana investasi non profit sharing.
Lantaran pembiayaan yang minim,rasio permodalan atau capital to adequacy ratio mencapai 330, 42% NPF gross dan nett tercatat 0,00%, sedangkan financing to deposit ratio hanya 0,16%.
Adapun berdasarkan laporan publikasi bulanan perseorangan per Februari 2021, penyaluran pembiayaan perseroan hanya mencapai Rp 46 juta. Sebagian besar aset ditempatkan dalam bentuk tagihan atas surat berharga yang dibeli untuk dijual atau reverse repo mencapai Rp 1,21 triliun.
Sementara itu, dana yang dihimpun dalam bentuk simpanan wadiah hanya Rp 15 juta dan investasi nonprofit sharing Rp 40,17 miliar. Bank Net Syariah menghimpun dana dari IPO sebesar Rp 515 miliar sehingga total ekuitas perusahaan meningkat menjadi Rp 1,16 triliun. BHR


