
Penanews.id, JAKARTA -Saya hanya seorang seniman, mampu saya membantu dengan tenaga saya, talenta yang diberikan Allah kepada saya,” kata Didi Kempot setelah konser amal yang digelarnya berhasil menarik sumbangan miliaran rupiah.
Didi Kempot aktif menginisiasi konser musik amal untuk membantu penanganan virus corona. Dia juga menekankan pentingnya waspada terhadap virus corona, dan agar warga tidak mudik dan tinggal di rumah saja.
Didi Kempot adalah nama panggung Dionisius Prasetyo. Didi adalah nama panggilannya, dan Kempot adalah “Kelompok Penyanyi Trotoar”, sebab Didi mengawali karier bermusiknya dari jalanan.
Didi adalah musisi yang dicintai berbagai kalangan. Lagu-lagunya tenar tak hanya di Indonesia, tapi juga di kalangan komunitas Jawa di Suriname, Amerika Selatan. Didi pun menyebut ibu kota Suriname dalam lagu “Angin Paramaribo”.
Lagu-lagu Didi membuat musik campursari “naik kelas”. Konser-konsernya dipenuhi anak-anak muda yang merasa lagu-lagu Didi mewakili perasaan mereka. Lagunya menjadi ikon patah hati dan dia dijuluki “godfather of broken heart”.
Warga kelas menengah tidak malu-malu lagi mengakui menikmati lagu-lagu campursari, bahkan lantang menyebut diri sebagai sadboi dan sadgirl, sobat ambyar dan Kempoters.
Kini pengayom orang-orang patah hati itu telah pergi dalam usia 53 tahun. Sugeng tindak Didi Kempot. BBC







