• Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer
Sabtu, 27 Juni 2026
Penanews.id
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Tidak ditemukan
Lihat Semua
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Tidak ditemukan
Lihat Semua
Penanews.id
Tidak ditemukan
Lihat Semua
Beranda Tekno

Penyebab Gunung Semeru Meletus

  • Senin, 6 Desember 2021 21:03
FacebookTwitterWhatsApp





GUNUNG Semeru meletus pada 4 Desember 2021. Dari video amatir warga Lumajang, Jawa Timur, terlihat kepanikan masyarakat saat gunung ini menghamburkan abu vulkanik raksasa. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana hingga 5 Desember 2021, korban meninggal sebanyak 14 orang dan penduduk yang luka berat serta ringan 56 orang.

Penduduk di sekitar gunung Semeru tak merasakan ada gempa yang kuat sebelum gunung meletus. Gempa menjadi salah satu faktor pemicu sebuah gunung meletus. Pantauan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat tak ada gempa besar hingga awal Desember yang memicu letusan gunung.


Catatan Magma Indonesia, aplikasi pemantau gempa Badan Geologi, mencatat amplitudo maksimum 25 milimeter dengan durasi 5.160 detik. Pengakuan warga Lumajang juga tidak merasakan gempa sebelum Semeru meletus.

Menurut ahli vulkanologi Institut Teknologi Bandung, Mirzam Abdurrachman, letusan gunung Semeru kemungkinan besar bukan karena gempa. Ia menduga ada faktor lain yang membuat material dapur magma gunung Semeru menyembur.

Secara umum, kata Mirzam, ada tiga penyebab sebuah gunung meletus: volume dapur magma penuh, longsoran di dapur magma, dan aktivitas di atas dapur magma. Mirzam menduga faktor ekstrenal berupa aktivitas di atas dapur magma ini yang menjadi pemicu gunung Semeru meletus.


Faktor eksternal itu adalah hujan. Menurut catatan Weather.com, pada Jumat dan Sabtu pekan lalu terjadi kenaikan presipitasi, tingkat kejenuhan uap air di atas Semeru, yang mendorong terjadinya hujan. Badan Geologi Kementerian Energi juga mencatat curah hujan yang cukup tinggi sebelum gunung Semeru meletus.

Hujan ini yang membuat lapisan abu vulkanik yang menjadi tudung magma Mahameru di ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut menjadi terkikis sehingga material di dalamnya menyembur. Kikisan air hujan juga membuat beban puncak gunung menjadi berkurang. Tudung magma ini adalah lapisan abu vulkanik yang berasal dari letusan Semeru sebelumnya pada Desember 2020.

Menurut Mirzam, dapur magma adalah ruang bawah tanah yang berisi batuan mencair yang berada di bawah permukaan kerak bumi. Karena penutupnya terkikis oleh air hujan, kata Mirzam, “Meski dapur magma sedikit, Semeru tetap bisa meletus.”

Meski begitu, faktor eksternal seharusnya tak menutup pada ketersediaan peringatan dini letusan gunung Semeru untuk menghindarkan korban sesedikit mungkin. Apalagi, para ahli termasuk Mirzam Abdurrachman mengatakan siklus letusan gunung Semeru 1-2 tahun.

Dalam laporannya kepada Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada 5 Desember 2021, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan peringatan dini sudah berjalan. Tentang para korban, menurut Khofifah, terjadi karena masyarakat panik akibat dalam satu jam awan panas yang datang tiba-tiba membuat udara jadi gelap sehingga menghambat proses evakuasi. “Di situ ada yang meninggal,” katanya seperti dikutip Republika.co.id.

Arah letusan gunung Semeru terprediksi melalui peta geologi. Secara umum arah letusan bergerak ke arah tenggara dan selatan karena terbawa angin, seperti letusan 2020. “Aliran laharnya pun sama karena semua sungai yang berhulu di puncak Semeru mengalir ke selatan dan tenggara,” kata Mirzam.

Secara visual, abu vulkanik gunung Semeru yang berwarna abu-abu menunjukkan semburannya berisi material berat. Dengan abu vulkanik cukup berat wajar terjadi penumpukan di sekitar area puncak hingga kaki Semeru. Foto rumah penduduk yang tertimbun oleh abu vulkanik beredar di lini masa media sosial salah satu dampaknya.

Secara umum, ada dua bahaya akibat letusan gunung, yakni bahaya primer dan bahaya sekunder, seperti yang terjadi saat dan setelah gunung Semeru meletus. Bahaya primer berkaitan dengan letusan gunung seperti aliran lava dan abu vulkanik, sementara bahaya sekunder setelah adalah banjir bandang atau lahar setelah gunung meletus. “Dua duanya sama berbahaya,” kata Mirzam.

Sumber: forestdigest.com

Baca Juga:

Sisihkan Uang Saku Untuk Semeru, Siswa se Bangkalan Kumpulkan Donasi Rp 500 juta

Kronologi Seorang Pria Lemparkan Gulungan Kertas ke Jokowi di Lumajang

Tags: Erupsi semeruKorban erupsi semeruPenyebab semeru erupsiSemeru Erupsi
302
Dilihat
FacebookTwitterWhatsApp

Berita Terkait

Tips Membeli Motor Seken, agar Tak Boncos

Tips Membeli Motor Seken, agar Tak Boncos

8 bulan yang lalu
27
Mengapa Rumah Zaman Kolonial Terasa Lebih Sejuk Meski Tanpa AC? Ini Alasannya

Mengapa Rumah Zaman Kolonial Terasa Lebih Sejuk Meski Tanpa AC? Ini Alasannya

1 tahun yang lalu
93
Giliran Tiga Hiu Paus Terdampar di Bawah Jembatan Suramadu, Ada Apa dengan Selat Madura?

Giliran Tiga Hiu Paus Terdampar di Bawah Jembatan Suramadu, Ada Apa dengan Selat Madura?

3 tahun yang lalu
102
Waktu yang Baik Buat Berdoa

Waktu yang Baik Buat Berdoa

3 tahun yang lalu
72
Sederet Fakta Wahyu Kenzo: ‘Orang Kaya’ yang Ditangkap Polisi Karena Robot Trading

Sederet Fakta Wahyu Kenzo: ‘Orang Kaya’ yang Ditangkap Polisi Karena Robot Trading

3 tahun yang lalu
166
Awas! Modus Baru Bobol M-banking Lewat Undangan Nikah Online, Sudah ada Korbannya!

Awas! Modus Baru Bobol M-banking Lewat Undangan Nikah Online, Sudah ada Korbannya!

3 tahun yang lalu
107
Berikutnya
Simak! Ini Tahapan Tes SKB CPNS Sampang

Simak! Ini Tahapan Tes SKB CPNS Sampang

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer

© 2019 @Penanews.id All Rights Reserved

  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret

© 2021 Penanews.id All right reserved.