Penanews.id
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Senin, 21 September 2026
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Penanews.id
No Result
View All Result
Home Opini

Politik Korban

TwitterFacebookWhatsApp

Oleh: Made Supriatma

Playingg victim is the simplest weapon of a politician can exploit. Bermain menjadi korban adalah senjata paling sederhana yang bisa dieksploitasi seorang politisi.


Tamsil sederhana itu saya pernah baca entah dimana. Namun terbukti kemanjurannya baik di negeri ini maupun di negeri mana saja. Bahasa politik di negeri ini adalah terzalimi. Siapa yang tidak jatuh kasihan pada orang yang terzalimi?

Dulu, politisi Jendral Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mampu menjungkalkan Megawati Sukarnoputri yang saat berkuasa dengan taktik ini.

Ketika mengetahui bahwa SBY menghimpun kekuatan untuk menyainginya dalam pemilihan presiden, Megawati memecatnya. Ini ternyata menjadi blunder. SBY memainkan peran sebagai korban ini dengan baik.

Bahkan selama memerintah pun, saya memperhatikan SBY secara kreatif memainkan politik sebagai korban ini secara kreatif.

Itu juga yang saya lihat yang terjadi antara Puan Maharani vs. Ganjar Pranowo. Yang satu adalah Ketua DPR-RI dengan latar belakang darah biru politik yang sangat kuat. Yang belakangan adalah Gubernur Jawa Tengah.

Puan berkunjung ke Jawa Tengah dan berbicara di acara PDIP. Disana dia berpidato. Bagian dari pidatonya yang ramai dikutip adalah “pemimpin ada di lapangan bukan di sosmed.”

Pernyataan ini segera ditafsirkan sebagai sindiran terhadap Ganjar Pranowo, yang adalah juga kader PDIP, namun tidak diundang ke pertemuan PDIP tersebut. Padahal semua kader kepala daerah PDIP hadir dalam pertemuan itu. Hanya Ganjar yang tidak diundang.

Ganjar memang pemain lumayan besar di media sosial. Dia memiliki 1,9 juta pengikut di Twitter. Kehadirannya di Instagram bahkan jauh lebih besar, yakni 3,4 juta pengikut.

Dia juga sering siaran ‘live’ di akun media sosialnya. Dan rupanya akun-akun ini dikelola cukup profesional oleh sebuah tim tersendiri.

Saya sudah lama mendengar desas-desus hubungan tidak harmonis antara Ganjar dan partai asalnya, PDIP. Salah satu penyebabnya adalah ambisi terbuka Ganjar untuk 2024.

Dia sudah membentuk tim-tim relawan di berbagai daerah. Dia juga sudah memelihara pendengung (buzzers) dan pemengaruh (influencer) yang siapa membela dan mempromosikan dirinya di media sosial.

Saya cenderung melihat pidato Puan ini adalah anugrah untuk Ganjar. Dia bisa memainkan peran sebagai orang yang menjadi korban. Dan itulah agaknya yang muncul dalam persepsi publik setelah kejadian ini.

Puan tidak pernah populer di luar kandang PDIP. Itu pun diakui oleh beberapa petinggi PDIP yang pernah saya ajak bicara. Peluangnya untuk maju di 2024 memang kecil tapi bukan tidak mungkin. Atau dia akan dipasangkan dengan seseorang dan hanya menjadi wakil presiden.

Saya kira, Gubernur Ganjar tahu persis akan hal ini. Dia juga sadar bahwa kemungkinan sangat kecil dia akan mendapat restu PDIP untuk maju Pilpres. Jurang antara dirinya dengan partai yang membesarkannya ini cukup dalam.

Namun dalam politik semua mungkin terjadi. Ganjar harus menunjukkan diri bisa bermain dan melayani kepentingan politik kekuatan-kekuatan nasionalis.

Dia, paling tidak, harus seperti Jokowi saat menjadi Gubernur DKI yang bisa menjadi magnet untuk beberapa kekuatan politik (dan oligarki, tentu saja!) untuk mendukungnya. Sehingga PDIP pun tidak punya pilihan lain untuk mencalonkan dirinya.

Lapangan bermain 2024 sudah mulai sesak. Hingga saat ini belum ada calon yang terlalu menonjol diluar Prabowo dan Anies Baswedan. Kedua memiliki “kendaraan” sendiri. Prabowo pasti akan diusung Gerindra dan Anies kemungkinan oleh PKS dan beberapa partai Islam kecil.

Puan memiliki kendaraan sendiri yang cukup besar namun dia kurang di soal elektabilitas. Mungkin dia akan berperan lebh sebagai “Queen-maker” nanti.

Apakah Ganjar akan berhasil dengan memainkan posisi sebagai ‘korban’ politik ini? Saya tidak tahu. Tapi dari beberapa interview dengan para pengamat politik Jawa Tengah, terlihat bahwa periode kedua Ganjar tidak terlalu baik.

Semua image dia kalah dengan Presiden Jokowi yang moncer dengan proyek-proyek infrastrukturnya. Bukan berarti Ganjar tidak mengerjakan proyek infrastruktur. Jalan-jalan provinsi di Jawa Tengah yang ada sekarang ini adalah yang paling baik yang pernah ada dalam sejarah provinsi ini.

Namun proyek-proyek Ganjar tenggelam oleh proyek-poyek besar Jokowi. Bahkan dalam beberapa hal, Ganjar harus menanggung efek negatif dari proyek mercusuar Jokowi.

Misalnya, dalam pembangunan Waduk Bener di Purworejo yang memerlukan batu andesit dari Desa Wadas. Penambangan batu ini berakhir dengan protes warga dan penanganan represif dengan aparat. Akibatnya sebelas warga dan aktivis luka-luka dan sebagian lagi ditahan.

Ganjar dikaitkan dengan peristiwa ini karena Gubernur Jawa Tengah mengeluarkan ijin untuk penambangan di Wadas ini.

Apakah Ganjar akan berhasil? Kita tidak tahu. Sejauh ini saya melihat jalan masih panjang dan cukup terjal untuknya. Walaupun berapa pendengung dan pemengaruhnya sudah mulai cukup aktif dan galak di media sosial.

Ada banyak hal yang harus dia kerjakan. Antara lain mencari partai yang akan mendukungnya. Mencari “investor” oligarkh yang mendukung pencalonannya. Memoles citra hanyalah salah satu dari sekian banyak pekerjaan politisi.

Baca Juga:

PPP Resmi Usung Ganjar Pranowo sebagai Capres

Ganjar Pranowo Mania Dibubarkan, Relawan Lain Sebut Mereka Gelembung Sabun

Tags: Ganjar dan PDIPGanjar pranowoGanjar Pranowo dan PDI-P tidak harmonisPuan Maharani
35
VIEWS
TwitterFacebookWhatsApp

Related Posts

Mahasiswa Tewas Dipukuli Karena Tidur di Masjid, Bagaimana Sebenarnya Hukum Tidur di Masjid?

Mahasiswa Tewas Dipukuli Karena Tidur di Masjid, Bagaimana Sebenarnya Hukum Tidur di Masjid?

11 bulan ago
131
Meluruskan Narasi Negatif “Calon Tunggal”, Menuju Perhelatan Kontestasi Pilkada Bangkalan

Meluruskan Narasi Negatif “Calon Tunggal”, Menuju Perhelatan Kontestasi Pilkada Bangkalan

2 tahun ago
127
Efek Elektoral Dukungan Demokrat Ke Prabowo

Efek Elektoral Dukungan Demokrat Ke Prabowo

3 tahun ago
46
Perlunya Suksesi Kekuasaan

Perlunya Suksesi Kekuasaan

4 tahun ago
65
Pastikan Kita Punya Urgensi Dan Alasan Yang Kuat Untuk Mengubah Sistem Pemilu

Pastikan Kita Punya Urgensi Dan Alasan Yang Kuat Untuk Mengubah Sistem Pemilu

4 tahun ago
39
Moral Politik Transaksional

Moral Politik Transaksional

4 tahun ago
52
Next Post
Dinkes Sebut Bangkalan Masih Aman Dari Penyebaran Varian Baru Covid 19

Dinkes Sebut Bangkalan Masih Aman Dari Penyebaran Varian Baru Covid 19

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer

© 2019 @Penanews.id All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret

© 2026 Penanews.id All right reserved.

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In