
Penanews.id, JAKARTA- Dalam ajang pemilihan umum, PKS kerap ditinggal oleh mitra koalisinya. Di Pilkada DKI misalnya, PKS ditinggal Gerindra setelah meraih kursi Wakil Gubernur.
Fakta selalu tersakiti ini, kata Presiden Partai Keadilan Sejahtera Ahmad Syaikhu, akan jadi pelajaran berharga untuk menentukan langkah politik ke depan.
“Jadi pembelajaran bagi kami bagaimana mudah-mudahan kami makin matang menangkap perasaan-perasaan yang tidak enak dialami pada masa lalu. Ini jadi pelajaran bagi kami,” kata Syaikhu dikutip Tempo.co, Kamis, 20 Mei 2021.
Syaikhu mengatakan politik adalah hal yang terbuka. Dengan sejumlah peristiwa tersebut, ia mengatakan, partainya masih tetap menyambangi dan berkomunikasi dengan partai lain.
“Dengan harapan ke depan ada konstelasi berubah dan perubahan perilaku. Politik kan dinamis,” kata dia.
PKS, kata Ahmad Syaikhu, tinggal berupaya mana yang paling memungkinkan untuk berkoalisi ke depannya. Meski begitu, Syaikhu mengakui bahwa pengalaman yang lalu tak bisa dinafikan oleh pengurus dan kader.
“Tapi mudah-mudahan kita berharap ada perubahan pada perilaku partner kita,” ujarnya.
Pada Pemilu 2019, PKS berkoalisi dengan Gerindra mengusung Prabowo Subianto sebagai lawan Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang merupakan inkumben.
Kalah di pemilu, Gerindra memutuskan untuk bergabung dengan kabinet Jokowi. Sedangkan PKS memilih oposisi.
EMBE







