
Penanews.id, JAKARTA- Jika bicara mengenai sosok yang mempopulerkan cara memblokir tendangan bebas rendah dengan cara berbaring, memang Mario Brozovic lah orangnya.
Namun sebenarnya yang memulai bukanlah gelandang Kroasia tersebut, melainkan gelandang klub Serie B Brasil, Figueirense, Ricardinho, saat bertanding lawan jawara Copa Libertadores tahun ini, Palmeiras.
Ia sudah melakukannya jauh sebelum Brozovic, yaitu di tahun 2013. Ide itu muncul dari dirinya sendiri dan mengejutkan rekan setimnya bahkan pelatihnya sendiri saat berusaha memblokir tendangan bebas rendah lawan.
Jadi bisa dibiliang ide low free kick asal Brasil, dimana Ronaldinho yang melakukannya di UCL tahun 2006/07 saat Barcelona menghantam Bremen 2–0. Namun ternyata antitesisnya juga dari negeri Samba.
Perlu diketahui bahwa Ronaldinho tidak sekali melakukan trik low free kick itu namun tercatat dua kali, dimana yang berikutnya dieksekusi saat ia sudah kembali merumput di Brasil bersama Flamengo ketika berhadapan dengan Santos di tahun 2011.
Tren tendangan bebas tersebut bahkan mulai ditiru oleh pemain lainnya seperti Jorge Valdivia dan gelandang klub Parana, Lucio Flavio.
Ide ini kemudian dikembangkan dan mulai diadaptasi di laga internasional oleh bek Real Madrid, Marcelo memodifikasinya dengan mengambil posisi berlutut di belakang pagar betis ketimbang berbaring ketika melawan Argentina di PPD 2018 di bulan November 2016.
Sosok asal Brasil lainnya, Phillipe Coutinho juga melakukannya masih berkostum The Reds hanya berselang tiga bulan usai aksi Marcelo tersebut.
Sebelum diadopsi oleh Brozovic, teknik ini bahkan sempat dicoba oleh Juan Mata di final Liga Eropa 2017 saat bersua Ajax, meski tidak sepenuhnya berbaring.
Kini, setelah 3 tahun aksi Brozovic viral, pose berbaring untuk menghadang tendangan bebas rendah itu memang kian populer.
Mungkin cara itu berhasil menghentikan tendangan bebas cerdik ala Ronaldinho, tapi apakah para eksekutor tendangan bebas kehabisan akal atau kian sulit mencetak gol lewat posisi bola mati ini? Tidak juga.
para eksekutor tampaknya akan mengincar celah lain seperti diantara pagar betis atau yang lebih indah, cara mendiang Maradona, dengan menendang sekaligus sedikit mencukil bola atau mengincar sudut atas gawang lawan sehingga menghasilkan alur bola dengan kurva tajam seperti yang dilakukan Messi di laga lanjutan liga Spanyol melawan Athletic Bilbao, yang mirip dengan aksi Maradona melawan Juventus di Liga Italia musim 1984/85.
Sumber: quora






