
Penanews.id, JAKARTA- Pala Eropa 2021 yang dihelat di masa pandemi menjadi hiburan yang dapat melenturkan urat-urat yang tegang akibat hidup ruwet karena Corona.
Maka, sambil menikmati setiap laga, ada baiknya kita menghayati kisah seorang wali yang suka bermain sepakbola. Imam Sya’roni, wafat pada tahun 973 hijriah, pernah bertemu wali yang suka sepakbola itu.
Dalam salah satu kajiannya, Pengasuh Ponpes Tahfidz Qur’an LP3IA Kragan, Kabupaten Rembang, Gus Baha’ menceritakan kisah salah satu waliyullah ini.
Berikut cerita Gus Baha’ dilansir dari iqra.id dan okezone.com.
Saya pernah belajar kitab wali, Kitabnya Imam Sya’roni. Namanya kitab yaitu Al-Minan Al-Kubro. Imam Sya’roni itu wali kelas berat. Imam Sya’roni juga terkenal pengarang kitab Manaqib.
Manaqib Syekh Abdul Qodir adalah karangannya Syekh Al-Barzanji, tapi beliau merujuk Kitab Manaqib yang dikarang oleh Imam Sya’roni.
Imam Sya’roni berkali-kali dipermalukan oleh wali lainnya. Dia pernah bertemu orang bercelana pendek sedang bermain sepak bola di suatu pantai.
Tapi, ini jangan ditiru, biar kamu tahu. Beliau bercelana pendek ya mungkin pendeknya dekat lutut. Beliau (Imam Sya’roni) ingkar, “Orang sore-sore kok memakai celana pendek, main bola di pantai”.
Ternyata ketika beliau pulang, beliau melihat orang di antara langit dan bumi duduk di kursi, lalu beliau dipanggil:
“Wahai Sya’roni, kamu tidak punya malu dengan aku. Orang tadi yang bermain sepak bola itu wali Abdal. Kamu itu wali baru kok tidak memiliki sopan.”
Untuk diketahui, dalam ilmu tasawuf, Wali Abdal adalah sekelompok orang terpilih yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Mereka adalah manusia pengganti yang diberi karunia khusus sepeninggal Para Nabi.
Beliau bertanya, “Anda wali kok bermain sepak bola dan bercelana pendek?”
“Ya biarkan, aku lagi senang dengan umatnya Nabi. Namanya orang senang ya main sepak bola.”
Lucu jawabnya. “Itu buka aurat!” kata Imam Sya’roni.
“Ya, ketika sholat Mazhabku Syafi’i, jadi aku sarungan, tapi kalau di luar sholat Mazhab Hambali.”
Masih dijawab damai. Wali itu bilang: “Ana Sayyidul Mullamatiyah (aku ini Wali Qutb yang menjadi ketuanya, aliran Mulamatiyah.”
Aliran Mulamatiyah ini adalah sekelompok wali yang tidak pernah sholat qabliyah juga tidak pernah sholat ba’diyah. Tapi, mereka sangat rindu pada Allah. Cuma ingin menunjukkan kepada umatnya Nabi bahwa sholat ini tidak wajib.
Kalau pedagang sholat fardhu saja, tidak perlu qabliyah-ba’diyah. Orang yang kerja satpam tidak perlu qabliyah-ba’diyah. Sudah hidupnya susah, utang banyak, qabliyah-ba’diyah ruwet.
Jadi sampai begitu. Ada umat Nabi yang jadi wali, saking kepengin umatnya Nabi yang tidak shalat qobliyah-ba’diyah agar tidak dicap jelek, dia seorang wali yang sangat merindukan Tuhan, tapi tidak pernah qabliyah-ba’diyah.
Jangan mengira dia tidak sholat sunnah. Kalau malam dia shalat sunnah ratusan kali, tapi sendiri tidak ada orang yang tahu. Saya sampai sekarang jarang qabliyah-ba’diyah, tapi jangan kira dengan kalian, banyak kalian. Suatu keangkuhan kalau kalian bilang begitu.
Meskipun mungkin kalian tahu kalau saya tidak qabliyah-ba’diyah, tapi jangan menyangka kalau shalatku banyak kalian. Bisa saja shalatnya banyak kalian, tapi pahalanya banyak saya. (hahaha…)
Karena itu tadi, nirakati supaya umatnya Nabi jangan pernah tersiksa karena tidak shalat qabliyah-ba’diyah.
Fainna minhum al-ummal, karena banyak dari mereka yang pekerja kasar. Sudah perkerja kasar, hina, terlantar. Kayak apa tersiksanya kalau ditambah qabliyah-ba’diyah.
Wali itu macam-macam. Dia bisa terbang. Makanya, Imam Sya’roni ditegur: “Kamu ini wali junior tahu tentang apa?”
Coba sekarang sepak bola diharamkan, semua diharamkan, orang kecewa dengan Islam. Yang rugi kan Kanjeng Nabi.
Wali itu ada yang tasamuh (toleran) suka sepak bola. Jalaluddin Rumi membuat tarian rumi. Macam-macam, wali itu banyak tidak hanya yang khusuk saja. Wali amatir itu ngajinya kurang banyak.
EMBE







