• Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer
Kamis, 30 April 2026
Penanews.id
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Tidak ditemukan
Lihat Semua
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Tidak ditemukan
Lihat Semua
Penanews.id
Tidak ditemukan
Lihat Semua
Beranda Jatim

Kebebasan Sipil di Indonesia Lebih Buruk dari Malaysia dan Filipina

  • Senin, 1 Juni 2020 14:28
FacebookTwitterWhatsApp
ilustrasi dari tempo.co

Penanews.id, JAKARTA – Kemunduran Demokrasi di Indonesia telah dirasakan sejak 2016. Pemilu 2019 kian mempertegas kemunduran itu dengan munculnya konsolidasi oligarki, hilangnya oposisi dan pelumpuhan KPK.

Penilaian ini disampaikan Direktur Center for Media and Democracy Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Wijayanto  melalui diskusi daring pada Senin, 1 Juni 2020.

Baca Juga:

Jelang Pilkada Serentak, Anggota MPR RI Ra Ibong Ingatkan Tentang Membangun Demokrasi Beretika Pancasila

Haris Azhar: Maraknya Teror Menunjukkan Pemerintah Panik

Wijayanto mengatakan, salah satu indikator penting dari kemunduran demokrasi adalah tergerusnya kebebasan sipil yang tampak jelas dalam proses revisi UU KPK pada September-Oktober 2019.

Di mana dalam proses unjuk rasa itu, diwarnai dengan aksi teror, penyadapan atau peretasan WhatsApp terhadap akademisi yang menolak revisi UU KPK.

Tak hanya akademisi, para mahasiswa yang turun beraksi, mendapat kekerasan fisik berupa penembakan dua mahasiswa, yakni Randi dan Yusuf.

“Kemunduran terburuk yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Indonesia memasuki era reformasi politik pada 1998,” kata Wijayanto.

Penilaian Wijayanto ini selarasa dengan data yang dikeluarkan oleh The Economist Intelligence Unit’s (EIU).  Pada 2019, lembaga ini mencatat skor kebebasan sipil di Indonesia hanya 5.59, berada jauh di bawah Malaysia dan Filipina.

“Ada yang menyebut jika di masa Presiden Joko Widodo atau Jokowi, sangat terobsesi dengan pembangunan infrastruktur tapi punya ketertarikan rendah terhadap ide kebebasan demokrasi,” ucap Wijayanto dikutip dari tempo.co. (EMBE)

Tags: Demokrasi Indonesiakebebasan sipil Indonesiateror diskusi UGM
93
Dilihat
FacebookTwitterWhatsApp

Berita Terkait

HUT TNI ke-80, Arsenal Batuporon Ajak Warga Bersih Pantai dan Jaga Area Vital

HUT TNI ke-80, Arsenal Batuporon Ajak Warga Bersih Pantai dan Jaga Area Vital

7 bulan yang lalu
128
Marching Band Al-Amien Prenduan, Raih Juara Umum di Kompetisi Nasional GMBC 2025

Marching Band Al-Amien Prenduan, Raih Juara Umum di Kompetisi Nasional GMBC 2025

7 bulan yang lalu
107
PORSENIJAR Zona 3, PGRI Bangkalan Tampil Perdana Langsung Torehkan Prestasi

PORSENIJAR Zona 3, PGRI Bangkalan Tampil Perdana Langsung Torehkan Prestasi

8 bulan yang lalu
65
Demokrat Bangkalan Peringati Harlah ke-24 dengan Virtual Meeting dan Aksi Sosial

Demokrat Bangkalan Peringati Harlah ke-24 dengan Virtual Meeting dan Aksi Sosial

8 bulan yang lalu
50
Petronas Diultimatum Nelayan: Bayar Ganti Rugi atau Angkat Kaki

Petronas Diultimatum Nelayan: Bayar Ganti Rugi atau Angkat Kaki

8 bulan yang lalu
53
GSN Bantah Ada Pungutan Bantuan Becak Listrik Presiden di Bangkalan

GSN Bantah Ada Pungutan Bantuan Becak Listrik Presiden di Bangkalan

10 bulan yang lalu
108
Berikutnya
Kantor Polsek Diserang Massa Berpedang, Satu Polisi Tewas

Kantor Polsek Diserang Massa Berpedang, Satu Polisi Tewas

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer

© 2019 @Penanews.id All Rights Reserved

  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret

© 2021 Penanews.id All right reserved.