Penanews.id
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret
Jumat, 18 September 2026
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Penanews.id
No Result
View All Result
Home Kosong

Latar Belakangnya Ditanyakan Netizen, Ini Silsilah Menteri Agama Gus Yaqut

TwitterFacebookWhatsApp

Penanews.id, Tak lama setelah mengumumkan penerapan aturan lama yang dibuat Kementerian Agama soal toa masjid, Menteri Agama Cholil Yaqut Qoumas jadi sasaran kritik netizen.

Aturan soal toa ini telah dibuat sejak tahun 1987. Dan baru diterapkan setelah Gus Yaqut menjadi Menteri Agama.

Baca Juga:

Pengedar Sabu di Bangkalan Gunakan Modus Kurir Makanan

Bukan Jalan-Jalan, Ayah di Madura Ajak Anak 13 Tahun Keliling untuk Curi Motor

Dalam sebuah wawancara, pernyataan Gus Yaqut memicu debat panas di media sosial. Gus Yaqut dianggap menyamakan suara Azan dengan Gonggongan anjing.

Netizen yang marah sampai-sampai mempertanyakan latar belakang pendidikannya. Siapa sebenarnya Gus Yaqut?

Akun Nasori Suchin di Facebook memuat status yang menarik tentang silsilah Ketua Umum GP Ansor ini. Redaksi penanews.id memuat ulang status ini bahan bacaan sekaligus pencerahan.

NU ITU SERING DILUDAHI

Kalimat diatas adalah kalimat parodi yang pernah diucapkan oleh Mbah Cholil atau KH. Muhammad Cholil Bisri. Seorang ulama’ besar dari Jawa Tengah. Pengasuh PP Raudhotut Tholibin Rembang, mantan Wakil Ketua MPR RI dan Wakil Dewan Syuro PKB generasi pertama. Dawuh beliau “NU kuwi kerep diidoni” (NU itu sering diludahi), pada suatu kesempatan.

Mbah Cholil adalah putra KH Bisri Mustofa, pengarang Al-Ibriz. Kitab tafsir Al Qur’an dalam bahasa Jawa yang sangat terkenal. Adik Mbah Choli bernama KH Ahmad Mustofa Bisri, seorang penyair, pelukis, budayawan, kiai, dan penulis produktif yang lebih terkenal dengan panggilan “Gus Mus”.

Mbah Cholil Bisri seorang kiai yg purna pendidikannya. Selain Sekolah Rakyat di Katioso juga merangkap di Madrasah Ibtidaiyah (1954), kemudian melanjutkan di SMP Taman Siswa (1956) bersamaan dengan sekolah di Perguruan Islam (1956).

Cholil muda kemudian melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, (1957), Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta (1960), Aliyah Darul Ulum Mekah (1962), dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ulama besar ini wafat tahun 2004. Meninggalkan 8 putra putrinya. Dua diantara putra beliau adalah Gus Yahya atau KH. Yahya Cholil Staquf Ketua Umum PBNU dan Gus Yaqut atau Yaqut Cholil Qoumas Ketua Umum PP GP Ansor dan Menteri Agama RI.

Apa hubunganya dengan kalimat NU sering diludahi diatas?

Belakangan ini kedua putra beliau menjadi sasaran ludah banyak orang. Bukan karena kesalahannya. Tetapi justru karena niat keberpihakannya pada kepentingan bangsa dan kemanusiaan.

Gus Yahya pernah dicaci maki karena menjadi pembicara perdamaian di depan para pembesar Yahudi di Israel. Konsep perdamaian yang dibawa Gus Yahya, mendapat respon positif dari dunia internasional. Tidak banyak orang bisa menasehati kaum Yahudi, tetapi Gus Yahya dengan mudah melakukanya dan diterima.

Gus Yaqut, dicaci karena ingin membangun harmonisasi antar umat, antar elemen bangsa dalam semangat saling menjaga, saling menghargai dan saling menghormati. Meskipun juga disalahfahami oleh sebagian orang. Bukan hanya diserang dari kalangan eksternal, tetapi juga dari internal NU sendiri, bahkan dari internal PKB. Ada rivalitas internal.

Mengapa Gus Yaqut diserang ?

Karena dia Ansor. Karena dia NU. Karena dia menteri Agama. Tiga posisi yang menarik menjadi peluru politik. Bukan karena yang lain. Dalam konteks kebangsaan, semua kesalahan yg sumbernya dari tokoh NU akan segera dibikin rame. Dibikin ruwet. Dibikin panjang. Bukan hanya saat ini, tetapi sejak masa masa yang lalu. Gus Dur, Kiai Hasyim, Pak Said Aqil, semua digegeri. Dibikin rame.

Dalam istilah Mbah Cholil Bisri “diidoni”.

466
VIEWS
TwitterFacebookWhatsApp

Related Posts

Empat Pilar Harus Menjadi Kompas Pengelolaan Kekayaan Alam

Empat Pilar Harus Menjadi Kompas Pengelolaan Kekayaan Alam

3 bulan ago
10
Bhinneka Tunggal Ika Kunci Redam Intoleransi di Era Politik Identitas

Bhinneka Tunggal Ika Kunci Redam Intoleransi di Era Politik Identitas

6 bulan ago
47
Hasani bin Zuber: Nasionalisme Perlu Adaptif di Tengah Arus Budaya Pop Global

Hasani bin Zuber: Nasionalisme Perlu Adaptif di Tengah Arus Budaya Pop Global

6 bulan ago
52
Gadis Asal Kwanyar Bangkalan Lapor Polisi Usai Mengaku Jadi Korban Persetubuhan

Gadis Asal Kwanyar Bangkalan Lapor Polisi Usai Mengaku Jadi Korban Persetubuhan

7 bulan ago
232
Aksi Ramadan H. Her: Ribuan Siswa MBG Kebagian Rp50 Ribu

Aksi Ramadan H. Her: Ribuan Siswa MBG Kebagian Rp50 Ribu

7 bulan ago
35
Ramadan Jadi Penguat Kinerja Pemerintahan, Ini Pesan Wakil Ketua DPRD Bangkalan

Ramadan Jadi Penguat Kinerja Pemerintahan, Ini Pesan Wakil Ketua DPRD Bangkalan

7 bulan ago
20
Next Post
Keseruan Bupati Sumenep Panen Raya Bawang Merah

Keseruan Bupati Sumenep Panen Raya Bawang Merah

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Hubungi
  • Karir
  • Iklan
  • Policy
  • Disclaimer

© 2019 @Penanews.id All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Nusantara
  • Madura
  • Jatim
  • Wisata & Kuliner
  • Olahraga
  • Tekno
  • Ekonomi
  • Opini
  • Jepret

© 2026 Penanews.id All right reserved.

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In