
Penanews.id, BANGKALAN – Anggota MPR RI Hasani bin Zuber menilai penguatan nasionalisme di kalangan generasi muda perlu pendekatan yang lebih adaptif seiring derasnya arus budaya pop global. Hal ini disampaikan dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kabupaten Bangkalan, Minggu (29/3).
Baca Juga:
Menurut Hasani, penetrasi budaya global—mulai dari musik, film, hingga gaya hidup—tidak bisa dihindari di era digital. Namun, fenomena tersebut tidak serta-merta menjadi ancaman, selama masyarakat memiliki fondasi nilai kebangsaan yang kuat.
“Budaya luar itu tidak harus ditolak, tapi perlu disaring. Di sinilah pentingnya nilai Pancasila sebagai filter,” ujarnya.
Ia menambahkan, generasi muda saat ini hidup dalam ekosistem digital yang sangat terbuka, sehingga interaksi dengan budaya asing menjadi bagian dari keseharian. Kondisi ini, menurutnya, menuntut redefinisi cara menanamkan nasionalisme agar tetap relevan dengan konteks zaman.
“Nasionalisme hari ini bukan lagi soal simbol semata, tetapi bagaimana kita tetap bangga dengan identitas bangsa di tengah keterbukaan global. Anak muda bisa menikmati budaya luar, tapi tetap mencintai dan mengembangkan budaya lokal,” kata Hasani.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya peran industri kreatif dalam memperkuat identitas nasional. Produk budaya lokal, seperti musik, film, dan konten digital, dinilai perlu terus didorong agar mampu bersaing di tingkat global sekaligus menjadi medium penanaman nilai kebangsaan.
Selain itu, Hasani menekankan bahwa penguatan Empat Pilar Kebangsaan—terutama Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika—harus dilakukan melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan dekat dengan keseharian generasi muda. Edukasi kebangsaan, menurutnya, tidak cukup disampaikan secara normatif, tetapi perlu dikemas secara kreatif dan komunikatif.
Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk pemuda dan pelajar yang aktif dalam komunitas kreatif. Diskusi berlangsung dinamis dengan mengangkat isu pengaruh budaya global terhadap identitas lokal.
Hasani berharap, generasi muda Indonesia mampu menjadi aktor utama dalam merawat nasionalisme yang inklusif dan terbuka, tanpa kehilangan jati diri bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.



