
Penanews.id, Bangkalan – Inovasi hexa reef atau terumbu buatan berbentuk heksagonal di Pantai Pasir Putih, Tlangoh, Bangkalan, terbukti efektif menekan laju abrasi sekaligus memacu kebangkitan ekonomi warga.
Program yang diinisiasi PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) ini berhasil mengubah tren abrasi yang semula mencapai 7 meter per tahun menjadi akresi (penambahan sedimentasi) hingga 5 meter di segmen tertentu.
Dampak ekonominya langsung terasa. Dari sisi ekologi, struktur beton seberat 390 ton yang ditanam sejak 2023 itu telah menjadi habitat baru, menarik setidaknya 20 spesies ikan karang. Hal ini meningkatkan produktivitas tangkapan nelayan lokal.
Di darat, pantai yang membaik mendongkrak sektor pariwisata dan menciptakan lapangan usaha baru. Saat ini, tercatat sedikitnya 40 unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kuliner, jasa wisata, dan penjualan cenderamata beroperasi di kawasan tersebut.
Pertumbuhan ekonomi lokal ini bahkan mampu menarik 7 orang mantan pekerja migran Indonesia untuk pulang dan membangun usaha di kampung halaman.
“Berkat hexa reef, rantai nilai ekonomi terbentuk. Ada kerja sama antara kelompok sadar wisata, nelayan, dan pelaku UMKM,” ujar Kudrotul Hidayat, Kepala Desa Tlangoh, dalam keterangan tertulis, Jumat (27/12/2025).
Analisis Data: Dari Konservasi ke Produktivitas Ekonomi

Program ini merupakan bagian dari pendekatan One Belt One Road (OBOR) PHE WMO yang menyinergikan aspek lingkungan, pendidikan, ekonomi, dan sosial. Studi yang dilakukan bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menjadi dasar ilmiah intervensi tersebut.
• Data Lingkungan: Pemantauan pada 2025 menunjukkan hexa reef dalam kondisi baik dan ditumbuhi karang. Tutupan karang lembaran mencapai 10,44% dan karang massif 7,87%, membentuk daya tarik wisata bahari baru.
•Data Ekonomi: Terbentuknya Kelompok Masyarakat Sadar Wisata (Pokdarwis) yang mengelola kawasan secara terintegrasi menjadi katalis utama kebangkitan ekonomi. Lapangan usaha yang tercipta mengurangi tekanan sosial dan menggerakkan perputaran uang di tingkat desa.
“Tanpa dukungan masyarakat, program ini tidak akan berhasil. Bagi kami, mereka semua adalah pahlawan dari Tlangoh,” kata Zulfikar Akbar, General Manager Zona 11 PHE WMO.
Keberhasilan di Tlangoh menunjukkan bahwa investasi pada rehabilitasi lingkungan pesisir, jika didukung data ilmiah dan pemberdayaan masyarakat, dapat menghasilkan return ganda: ekosistem yang pulih dan ekonomi warga yang menguat. Model ini berpotensi untuk direplikasi di berbagai daerah pesisir Indonesia yang menghadapi tantangan serupa.
EMbe
