
Penanews.id, BANGKALAN – Dalam menghadapi kompleksitas tantangan global yang semakin multidimensi, Anggota MPR RI Hasani bin Zuber menegaskan bahwa ketahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus diperkuat secara menyeluruh.
Ia menyoroti bahwa ancaman terhadap kedaulatan bangsa kini tidak lagi bersifat konvensional atau fisik semata, melainkan telah berevolusi menjadi serangan siber yang masif, gelombang disinformasi yang menggoyah persatuan, serta dampak riil dari krisis global di bidang ekonomi, energi, dan pangan.
“Ketahanan nasional hari ini tidak lagi semata-mata bertumpu pada kekuatan pertahanan militer. Ia harus mencakup ketahanan informasi, ekonomi digital, energi, dan yang terpenting—ketahanan sosial-budaya, Jika salah satu pilar ini rapuh, stabilitas nasional secara keseluruhan dapat terganggu.” terang Hasani saat sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Bangkalan, 15 Desember 2025.
Menurutnya, Empat Pilar Kebangsaan—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—menjadi fondasi strategis dan kerangka berpikir dalam menjawab tantangan tersebut. Pancasila tidak hanya berperan sebagai dasar moral, tetapi juga sebagai kompas nilai yang menjaga bangsa dari infiltrasi ideologi asing yang bertentangan dengan kepribadian Indonesia.
UUD 1945 menjadi pedoman hukum yang menjamin keberlangsungan tata kelola negara secara adil dan berdaulat.
Sementara itu, NKRI sebagai bentuk final negara harus dipertahankan dengan kesadaran penuh, dan Bhinneka Tunggal Ika berfungsi sebagai perekat sosial yang mencegah retaknya kohesi bangsa akibat isu-isu identitas maupun perpecahan yang sengaja diproduksi.
Hasani juga mengingatkan bahwa dalam era digital yang terbuka, lemahnya persatuan dan rendahnya literasi media masyarakat dapat dengan mudah dieksploitasi oleh pihak-pihak tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk melemahkan kepercayaan publik terhadap institusi negara dan memecah-belah solidaritas kebangsaan.
“Setiap narasi yang menyudutkan negara tanpa dasar fakta yang jelas, setiap konten yang menebar kebencian atas nama perbedaan, adalah bentuk ancaman baru terhadap kedaulatan kita,” katanya.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak hanya menjadi pasif dalam menerima informasi, melainkan aktif membangun ketahanan dari tingkat keluarga hingga komunitas.
“Ketahanan NKRI tidak hanya tergantung pada kebijakan pemerintah atau kekuatan alat negara, tetapi sangat bergantung pada kesadaran kolektif, kewaspadaan bersama, dan komitmen seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga apa yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa,” pungkas Hasani.
Dengan demikian, penguatan ketahanan nasional harus dilihat sebagai gerakan bersama yang berlandaskan nilai-nilai kebangsaan, di mana setiap warga negara berperan sebagai penjaga kedaulatan dan perekat persatuan di tengah gelombang ketidakpastian global.
EMbe
