
Penanews.id, JAKARTA – Muncul silang pendapat antara MUI, PKS dan NU terkait usulan nama Bapak Bangsa Turki Mustafa Kemal Ataturk diabadikan menjadi nama jalan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak setuju dengan wacana itu. Mereka menyebut rencana pemberian nama itu keliru lantaran Ataturk dinilai sebagai tokoh yang kerap merugikan Islam.
MUI bahkan menyebut Ataturk adalah tokoh yang memiliki pemikiran menyesatkan.
“Jadi Mustafa Kemal Ataturk ini adalah seorang tokoh yang kalau dilihat dari fatwa MUI adalah orang yang pemikirannya sesat dan menyesatkan,” ujar Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas dilansir detik.com.
Menurut dia, Ataturk merupakan tokoh pembaharu Islam yang telah mengacak-acak ajaran Islam sendiri. Ataturk dinilai banyak melakukan hal yang bertentangan dengan ketentuan dalam Alquran dan sunah.
Menurut Anwar, langkah pemerintah yang hendak mengabadikan nama Ataturk sama dengan menyakiti hati umat Islam Indonesia.
Ketua DPW PKS DKI Jakarta Khoirudin mengamini pernyataan Anwar. Maka itu, PKS mendorong pemerintah membatalkan rencana tersebut.
Dia meyakini, banyak muslim di Indonesia yang sebetulnya tak menyukai Ataturk karena kebijakan tokoh di awal-awal pemerintahan Turki justru merugikan umat Islam.
Penilaian berbeda diungkapkan Ketua Umum Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI, Syamsul Maarif.
Ia menganggap berlebihan penolakan MUI dan PKS.
“MUI dan PKS tanggapannya nolak? Nah itu lebay menurut saya. MUI dan PKS itu lebay. Memandangnya parsial saja,” kata Syamsul kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/10).
Syamsul menyatakan persoalan tokoh tersebut memiliki ideologi atau pandangan yang berbeda dengan umat Islam di Indonesia merupakan urusan yang lain.
Ia lantas membandingkan dengan nama Presiden pertama RI, Sukarno yang sudah menjadi nama jalan di banyak negara.
Baginya, tokoh Ataturk sebagai bapak pendiri Turki harus dihormati Indonesia, tanpa memandang ideologi yang dianutnya.
“Tapi bahwa Kemal Ataturk bagian dari tokoh di Turki, Bapak pendiri Turki, ya sudah kita harus hormati. Tanpa melihat apakah Kemal liberal atau sekuler itu urusan lain,” kata Syamsul.
EMbe






